Jaga Ketahanan Pasokan Energi Nasional, Bahlil Sebut Minyak Mentah Rusia segera Masuk

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:45 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai Ratas di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (BeritaNasional/BPMI Setpres)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai Ratas di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (BeritaNasional/BPMI Setpres)

BeritaNasional.com -  Pemerintah terus berupaya menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan minyak mentah/crude dari Rusia segera masuk ke Indonesia sebagai bagian dari upaya tersebut.

Selain itu langkah ini  juga menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.

Pemerintah saat ini memprioritaskan ketersediaan seluruh jenis bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.

“Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya," terangnya, Sabtu (2/5/2026).

Pemerintah sambung dia lagi, fokus memastikan ketersediaan berbagai jenis BBM, mulai dari solar hingga bensin dengan berbagai angka oktan, di tengah kondisi global yang masih bergejolak.

Menurutnya dalam situasi geopolitik global saat ini, negara harus mengutamakan keamanan pasokan energi sebelum mengambil langkah lanjutan terkait kebijakan energi lainnya.

“Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting,” ujarnya.

Terkait mekanisme dan harga impor minyak mentah Rusia, Bahlil menyebut kepastian tersebut merupakan ranah business to business (B2B).

Selain minyak mentah, pemerintah juga membuka peluang impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Rusia. Namun, menurut Bahlil, rencana tersebut masih dalam tahap pembicaraan.

Meski demikian, ia memastikan stok elpiji nasional saat ini masih berada di atas batas minimum nasional. (Antara)sinpo

Editor: Syasya Bilah Putri Faradila
Komentar: