WHO Pastikan Risiko Global Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Tetap Rendah
BeritaNasional.com - Kapal pesiar MV Hondius yang menjadi pusat wabah hantavirus mematikan tiba di lepas pantai Tenerife pada Minggu pagi waktu setempat. Kedatangan kapal tersebut menandai dimulainya proses pemulangan para penumpang ke negara asal masing-masing.
Kapal terlihat berada di sekitar Pelabuhan Granadilla pada pukul 05.30 waktu setempat. Otoritas setempat telah mendirikan tenda medis di area pelabuhan untuk mendukung proses pemeriksaan kesehatan para penumpang sebelum repatriasi dilakukan.
World Health Organization sebelumnya menyatakan kapal tersebut membawa enam penumpang dengan kasus hantavirus terkonfirmasi dan dua kasus suspek. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk dua penumpang yang meninggal saat masih berada di atas kapal.
Kepala kesiapsiagaan epidemi dan pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan para penumpang yang tidak menunjukkan gejala akan dipindahkan menggunakan perahu kecil menuju daratan untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum diterbangkan ke negara masing-masing.
Sebanyak 17 warga Amerika Serikat yang masih berada di kapal akan dipulangkan ke AS dan menjalani observasi di Unit Karantina Nasional di kampus University of Nebraska Medical Center, Omaha.
“Kami siap menghadapi situasi seperti ini,” kata CEO Nebraska Medicine, Michael Ash, dalam pernyataannya dilansir dari NBC News, Minggu (10/5/2026).
Pemerintah Spanyol, Inggris Raya, dan Prancis juga telah menyiapkan prosedur pemulangan dan karantina bagi warga negaranya yang berada di kapal tersebut.
Sementara itu, kapal milik perusahaan Oceanwide Expeditions akan melanjutkan perjalanan menuju Rotterdam dalam waktu lima hari. Jenazah korban meninggal juga tetap berada di kapal untuk kemudian menjalani proses disinfeksi di Belanda.
Menteri Kesehatan Spanyol, Mónica García, mengatakan proses disinfeksi kapal akan dilakukan setelah tiba di Belanda. Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan risiko penyebaran virus bagi masyarakat global maupun warga Tenerife tetap rendah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga menenangkan kekhawatiran masyarakat terkait potensi penyebaran wabah.
“Rasa sakit akibat tahun 2020 masih nyata, dan saya tidak menampiknya sedikit pun,” kata Tedros. “Tetapi saya perlu Anda mendengar saya dengan jelas: ini bukan COVID yang lain. Risiko kesehatan masyarakat saat ini dari hantavirus tetap rendah. Saya dan kolega saya telah mengatakan ini dengan tegas, dan saya akan mengatakannya lagi kepada Anda sekarang.”
WHO menjelaskan hantavirus menular melalui kontak dengan hewan pengerat, terutama paparan urin, kotoran, atau air liur tikus. Dugaan awal menunjukkan kasus pertama kemungkinan berasal dari paparan hewan pengerat saat kegiatan pengamatan burung.
Dari berbagai jenis hantavirus, hanya strain Andes yang ditemukan pada kasus di kapal Hondius yang diketahui dapat menular antar manusia. Namun, penularan biasanya terjadi melalui kontak sangat dekat.
Kasus pertama dilaporkan setelah kapal meninggalkan Ushuaia pada awal April 2026. WHO menerima laporan mengenai sejumlah penumpang dengan penyakit pernapasan berat pada 2 Mei lalu.
Korban pertama merupakan pria asal Belanda yang meninggal di atas kapal pada 11 April. Saat itu penyebab kematian belum diketahui dan belum ditemukan indikasi penularan virus di kapal.
WHO juga melaporkan istri korban meninggal di sebuah klinik di Afrika Selatan pada 26 April. Korban ketiga, seorang perempuan asal Jerman, meninggal di atas kapal pada 2 Mei.
Dua hari setelahnya, hantavirus dikonfirmasi pada seorang penumpang yang dievakuasi ke rumah sakit di Afrika Selatan.
Menurut WHO, hantavirus memiliki tingkat kematian sekitar 40 hingga 50 persen dan berisiko tinggi bagi kelompok lanjut usia. Rata-rata usia penumpang kapal tersebut dilaporkan mencapai 65 tahun.
Sumber: NBC News
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





