Mei 2026 Istilah PCOS Berubah Menjadi PMOS, Ini Alasannya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Kamis, 14 Mei 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Para wanita mungkin sudah familiar dengan istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Ini merupakan kondisi hormonal yang memengaruhi 1 dari 8 perempuan di seluruh dunia ini kerap dikaitkan dengan siklus haid tidak teratur, jerawat membandel, hingga kesulitan hamil.

Namun pada 12 Mei 2026, nama tersebut resmi tidak lagi digunakan.

Dikutip dari laman Halodoc, dalam sebuah publikasi di jurnal The Lancet yang dipresentasikan di European Congress of Endocrinology di Praha, para ahli dari 56 organisasi medis dan advokasi pasien di seluruh dunia sepakat mengganti nama PCOS menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome). 

Perubahan nama ini sekaligus menjadi koreksi ilmiah yang sudah ditunggu selama puluhan tahun. 

Lalu, apa sebenarnya PMOS itu? Mengapa namanya diubah dan apa dampaknya bagi perempuan Indonesia yang selama ini hidup dengan kondisi tersebut? 


Mengapa Nama PCOS Diubah Menjadi PMOS?

Nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pertama kali digunakan pada 1935.  

Penggunaan istilah PCOS seringkali menyalahartikan gangguan hormonal yang kompleks ini sebagai masalah kista ovarium semata. Terutama pada kata ‘polycystic’ yang bermakna banyak kista. 

Reduksi makna tersebut berdampak buruk pada akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan yang diterima pasien. 

Kenyataannya, perempuan dengan PCOS tidak memiliki kista pada ovarium. Ketika dilakukan USG, yang terlihat adalah folikel-folikel kecil yang terhenti perkembangannya, bukan kista patologis. 

Akibat kesalahan istilah ini, banyak pasien dan bahkan dokter yang keliru memahami kondisinya. 

Hal ini memicu beberapa kondisi seperti: 

Keterlambatan diagnosis, sehingga pasien  tidak terdiagnosis tepat waktu. 
Stigma dengan label ‘cysts’ membuat banyak perempuan khawatir berlebihan soal kista yang sebetulnya tidak ada. 

Terhambatnya penelitian karena framing nama yang salah, memengaruhi arah riset dan kebijakan kesehatan yang ada. 
PCOS sering dianggap sebagai masalah organ reproduksi, padahal kondisi ini 
memengaruhi fungsi tubuh lainnya. 

Nama baru, PMOS, dipilih setelah proses konsensus global selama 11 tahun yang melibatkan lebih dari 22.000 orang, termasuk pasien, dokter, dan peneliti dari seluruh dunia. 

Ada beberapa alasan mengapa nama ini dianggap lebih akurat, antara lain:

Poly–endocrine. Mencerminkan gangguan hormonal kompleks dan melibatkan banyak kelenjar endokrin.

Metabolic. Mengakui dampak metabolik seperti resistensi insulin, risiko diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Ovarian. Tetap mengakui peran ovarium tanpa berlebihan menekankan aspek reproduksi. 

Syndrome. Menggambarkan kumpulan gejala yang bervariasi antar individu.


Apa Itu PMOS dan Siapa yang Berisiko?

PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) adalah gangguan hormonal kronis yang kompleks, ditandai oleh fluktuasi hormon yang berdampak pada metabolisme, kesehatan reproduksi, kondisi kulit, berat badan, dan kesehatan mental.

Data yang dipublikasikan The Lancet menyebut bahwa secara global, PMOS memengaruhi lebih dari 170 juta perempuan atau sekitar 1 dari 8 perempuan usia reproduktif. 

Di Indonesia, prevalensi kondisi ini diperkirakan mencapai 5–10% perempuan usia subur. 

Artinya ada jutaan perempuan Indonesia yang hidup dengan kondisi ini, banyak di antaranya belum terdiagnosis.

Kondisi ini biasanya mulai muncul sejak usia remaja, seiring dimulainya siklus menstruasi. 

Faktor genetik berperan besar pada kondisi tersebut. Jika saudara perempuan kamu memiliki PMOS, risiko kamu untuk mengalaminya pun lebih tinggi. 

Namun faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis juga dapat memperburuk gejala.

Gejala PMOS

Siklus haid tidak teratur, sangat jarang, atau bahkan tidak haid sama sekali.

Hiperandrogenisme. Kondisi di mana kadar hormon androgen tinggi yang menyebabkan jerawat persisten, tumbuhnya rambut di wajah atau tubuh (hirsutisme), dan rambut kepala yang rontok.

Berat badan sulit dikendalikan, terutama penumpukan lemak di area perut.

Resistensi insulin. Kondisi di mana sel tubuh tidak merespons insulin 
dengan baik, meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Gangguan kesuburan dan kesulitan hamil.

Perubahan suasana hati, kecemasan, dan depresi.

Kulit gelap (akantosis nigrikans) di lipatan leher, ketiak, atau selangkangan.
 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: