Ekonom: Perkuat Nilai Tukar Rupiah Kembali Rp16 Ribuan Tak Cukup Hanya Intervensi BI

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Rabu, 20 Mei 2026 | 02:00 WIB
Nilai rupiah melemah terhadap Dolar AS (BeritaNasional/Pixabay)
Nilai rupiah melemah terhadap Dolar AS (BeritaNasional/Pixabay)

BeritaNasional.com - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan, penguatan nilai tukar (kurs) rupiah agar kembali ke level kisaran Rp16.000 per dolar AS tidak cukup jika hanya mengandalkan intervensi bank sentral.

Menurutnya, upaya ini juga memerlukan dukungan penguatan fiskal, arus modal asing, ekspor, dan kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik.

Rizal menilai, rupiah masih berpeluang menguat apabila tekanan global mereda dan permintaan valas menurun. Namun untuk kembali stabil di level Rp16 ribuan dibutuhkan dukungan yang lebih luas.

“Terkait proyeksi rupiah kembali ke Rp16.200-16.800 rata-rata tahunan, secara matematis masih mungkin, tetapi sangat berat mengingat posisi saat ini sudah di atas Rp17.600,” kata Rizal.

Dihubungi secara terpisah, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memandang nilai tukar rupiah masih berpeluang menguat apabila konversi devisa hasil ekspor dimaksimalkan sehingga eksportir tidak menahan valas di tengah pelemahan rupiah.

Ia juga mencatat tekanan terhadap rupiah saat ini bukan berasal dari sektor riil maupun aktivitas ekspor-impor. Pelemahan rupiah lebih dipengaruhi arus keluar modal asing jangka pendek (hot money outflow) di pasar keuangan serta faktor musiman seperti transfer dividen dan kebutuhan valas untuk ibadah haji.

Myrdal juga menyoroti surplus neraca perdagangan yang justru melebar di tengah pelemahan rupiah. Penguatan dolar AS membuat importir menahan ekspansi sehingga impor menurun dan selisih ekspor-impor semakin besar.

Di sisi lain, ia menilai peluang penambahan devisa masih terbuka, terutama dari ekspor berbasis komoditas, manufaktur, hilirisasi, hingga sektor pariwisata.


Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: