Krisis Energi Suriah, Warga Mengantre di SPBU yang Tutup hingga Berhari-hari Tak Bekerja

Oleh: Kiswondari
Selasa, 07 Juli 2026 | 07:01 WIB
Sejumlah pengendara mobil dan taksi mengantre di SPBU yang tutup di kota pesisir Suriah, Minggu (5/7/2026). (BeritaNasional/Viory)
Sejumlah pengendara mobil dan taksi mengantre di SPBU yang tutup di kota pesisir Suriah, Minggu (5/7/2026). (BeritaNasional/Viory)

BeritaNasional.com - Krisis energi terjadi di Suriah, warga di kota pesisir Latakia bahkan rela mengantre di sebuah SPBU yang tengah tutup karena kehabisan stok. Kendaraan mereka kehabisan bensin, menghambat sektor transportasi dan aktivitas mereka, bahkan warga tidak bekerja selama beberapa hari karena krisis bensin. 

Melansir Viory pada Senin (6/7/2026), sebuah rekaman menunjukkan antrean panjang mobil dan taksi yang menunggu di luar SPBU yang tutup. Seorang pengemudi taksi harus mengantre untuk waktu yang lama karena sudah beberapa hari tidak bisa bekerja, sementara penghasilannya bergantung pada pendapatan harian.

"Saya sudah mengantre sejak pukul 6 pagi. Ini berdampak besar. Saya belum bekerja selama dua hari terakhir karena tidak ada bensin yang tersedia. Kami para pengemudi taksi bergantung pada penghasilan harian kami, dan setiap hari kami tidak dapat bekerja menciptakan kesulitan keuangan bagi kami," kata pengemudi taksi bernama Hossam Jomaa pada Minggu (5/7/2026).

Seorang warga lainnya rela mengantre lama karena dijanjikan akan ada truk tangki yang akan mengisi ulang BBM di SPBU tersebut, namun tak kunjung datang. 

"Mereka berjanji akan ada truk tangki bahan bakar yang datang, tetapi sampai sekarang belum ada. Tidak ada jadwal resmi. Kami mengikuti halaman media sosial, termasuk Facebook dan lainnya. Belum ada penjelasan resmi tentang alasan di balik krisis yang kami alami," kata Mohammad Amir, seorang warga Aleppo yang bekerja di Latakia.

Kemudian, warga lainnya bernama Ali Ghalia, mengatakan bahwa krisis bahan bakar tersebut mengejutkan semua orang.

“Krisis ini terjadi tiba-tiba dan tanpa diduga siapa pun,” katanya, seraya menambahkan bahwa peran Latakia sebagai provinsi pariwisata membuat pasokan bahan bakar sangat penting bagi orang-orang yang keluar masuk kota.

Sementara itu, Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah mengungkap, beberapa provinsi menghadapi “krisis bahan bakar paling parah dalam beberapa bulan terakhir”, dengan kekurangan bensin yang semakin memburuk setiap jamnya. Bahkan, sebagian besar stasiun pengisian BBM telah tutup sepenuhnya, dan hanya satu yang masih beroperasi di Damaskus dan semua SPBU di Latakia telah tutup.

Terkait kondisi ini, Kementerian Energi dalam pemerintahan transisi Suriah mengatakan, bensin dalam proses pendistribusian dari pusat-pusat di Baniyas dan Homs ke provinsi-provinsi di seluruh negeri untuk meningkatkan cadangan di SPBU dan memenuhi permintaan. Kementerian itu mengklaim bahwa 7,32 juta liter telah didistribusikan sebagai bagian dari rencana distribusi produk minyak bumi harian.

Sebelumnya, pada hari Sabtu (4/7/2026), kementerian mengatakan krisis tersebut disebabkan oleh peningkatan tajam permintaan dalam waktu singkat, bersamaan dengan keterlambatan beberapa SPBU dalam mengambil pasokan yang dialokasikan. Namun, situasi tersebut bergerak menuju stabilisasi penuh.

Sebagai informasi, pemerintah transisi Suriah mengambil alih kekuasaan di Damaskus sejak Desember 2024, setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad. Ahmed al-Sharaa kemudian diangkat sebagai presiden sementara dan berjanji untuk membentuk pemerintahan inklusif.

Sumber: Viorysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: