Inflow SBN dan SRBI Tembus 9 Miliar Dollar AS, BI Ungkap Faktor Pendorong

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 29 Juni 2026 | 13:17 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Foto/tangkapan layar)
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Foto/tangkapan layar)

BeritaNasional.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas di tengah tingginya ketidakpastian global.

Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian ESDM, serta Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa kondisi global yang masih tidak menentu mendorong BI untuk mengambil kebijakan jangka pendek yang fokus pada stabilitas pasar keuangan.

Menurut Destry, tekanan global yang tinggi membuat otoritas moneter harus bergerak cepat menjaga keseimbangan pasar, terutama pada nilai tukar dan likuiditas.

“Dalam situasi ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka kami di Bank Indonesia tentunya perlu membuat suatu kebijakan yang sifatnya memang jangka pendek untuk mencapai stabilitas. Dalam hal ini adalah kita bicara nilai tukar. Dan kebijakan tentu satu nilai tukar dan kedua likuiditas,” ujar Destry, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (29/62026).

Dalam upaya menjaga stabilitas rupiah, BI telah melakukan penyesuaian suku bunga acuan secara bertahap. Dalam satu bulan terakhir, BI menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin hingga mencapai level 5,75%.

Kebijakan ini, menurut Destry, berdampak pada penyesuaian harga berbagai instrumen keuangan, baik yang diterbitkan BI maupun pemerintah seperti SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).

“Nah, untuk nilai tukar bahwa dalam satu bulan terakhir ini kami memang sudah menaikkan BI Rate kami sebesar 100 basis poin, sehingga sekarang berada di posisi 5,75%,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penyesuaian tersebut turut memicu arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

“Yang terjadi kemudian adalah repricing atau penyesuaian harga, baik itu untuk instrumen yang diterbitkan oleh Bank Indonesia ataupun oleh pemerintah, yaitu SRBI dan SBN. Di mana dalam bulan Juni ini telah terjadi inflow yang cukup signifikan sehingga secara year to date dari Januari hingga akhir Juni tanggal 26 yang lalu, inflow yang masuk untuk portofolio SBN dan SRBI kita sudah mencapai sekitar 9 miliar US Dollar.”

Arus Modal Masuk Perkuat Kepercayaan Pasar

Destry menilai arus masuk modal asing tersebut menjadi sinyal positif terhadap tingkat kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Hal ini juga dinilai mencerminkan persepsi yang sama di tingkat domestik.

“Jadi itu pertama tentunya confidence dari offshore yang tentu juga akan tercermin dari confidence ke masyarakat kita di Indonesia,” katanya.

Selain kebijakan suku bunga, Bank Indonesia juga terus menjaga likuiditas pasar melalui berbagai instrumen operasi moneter guna menghindari gejolak di pasar uang dan pasar valuta asing.

Destry menjelaskan bahwa ekspansi likuiditas yang dilakukan BI terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

“Yang kedua untuk likuiditas, tentunya Bank Indonesia juga akan terus menjaga likuiditas di pasar dengan berbagai instrumen yang kami miliki,” ujarnya.

“Sebagai contoh untuk likuiditas di operasi moneter kami, kalau kita lihat di akhir bulan Mei, ekspansi yang kami lakukan sekitar 600 triliun, maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga 1.000 triliun, khusus untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," tandasnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: