Pemkab Cirebon: Situs Huludayeuh Simpan Jejak Kerajaan Sunda

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Jumat, 29 Mei 2026 | 02:30 WIB
Situs Huludayeuh (Foto/Budaya Indonesia)
Situs Huludayeuh (Foto/Budaya Indonesia)

BeritaNasional.com - Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebut Situs Batu Tulis Huludayeuh di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, dapat menjadi destinasi edukasi sejarah dan budaya karena menyimpan jejak penting peninggalan Kerajaan Sunda di wilayah Cirebon.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno mengatakan, situs tersebut memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan dengan perjalanan pemerintahan Kerajaan Sunda pada masa lampau.

Menurut dia, keberadaan prasasti batu tulis kuno di situs tersebut menjadi bukti sejarah yang perlu dijaga sekaligus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Ini menjadi salah satu bukti penting perjalanan sejarah Kerajaan Sunda di wilayah Cirebon yang perlu dijaga dan dikenalkan kepada masyarakat,” katanya.

Fajar menjelaskan, Situs Batu Tulis Huludayeuh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi, karena pengunjung dapat mempelajari sejarah sekaligus menikmati panorama alam di sekitar kawasan situs.

Ia mengatakan, upaya pelestarian situs budaya perlu dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat, agar warisan sejarah daerah tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Di tempat yang sama, Juru Kunci Situs Batu Tulis Huludayeuh Edi mengatakan, batu prasasti tersebut pertama kali ditemukan warga sekitar pada 1930, ketika kawasan itu masih berupa hutan belantara.

“Dulunya masih hutan. Dikabarkan ada pohon beringin tumbang, lalu di bawahnya ditemukan batu ini,” katanya.

Ia menjelaskan penelitian terhadap situs tersebut baru dilakukan pada Februari 1991, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya karena memiliki keterkaitan dengan peninggalan Kerajaan Sunda.

Menurut Edi, berdasarkan keterangan para ahli, prasasti tersebut dibuat atas perintah seorang raja bergelar Sri Maharaja Ratu Haji sebagai tanda peringatan atas pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat.

“Batu ini ditulis atas perintah kerajaan sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, situs tersebut terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya dan pernah dikunjungi pelajar maupun masyarakat, yang ingin mempelajari sejarah serta budaya Cirebon.

“Masyarakat bisa datang langsung untuk berkunjung supaya tahu sejarah dan ikut melestarikannya,” kata Edi.

Sumber: Antara
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: