Ilmuwan Lacak Gelombang Laut Sejauh 14 Ribu Km, Peringatkan Dampak Pemanasan Global
BeritaNasional.com - Sebuah fenomena alam yang luar biasa berhasil didokumentasikan oleh para peneliti dunia. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil melacak secara akurat perjalanan gelombang laut raksasa yang dipicu oleh badai di Antartika, menempuh jarak fantastis sejauh 14 ribu kilometer (km) melintasi bumi hingga berakhir di pesisir Alaska.
Keberhasilan ini terwujud berkat analisis mendalam menggunakan data dari 300 pelampung apung yang tersebar di lautan.
Berdasarkan rilis resmi dari Universitas Melbourne (UniMelb), Australia, para peneliti sukses memetakan bagaimana badai ekstrem di Samudra Selatan menjadi 'mesin utama' yang mendorong gelombang besar ke berbagai belahan dunia.
Studi yang didanai oleh Dewan Riset Australia ini juga mengungkap fakta menarik: gelombang laut hasil badai besar mampu bermigrasi hingga ribuan kilometer.
Gelombang yang berukuran lebih panjang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan gelombang yang lebih pendek.
Berawal dari Badai Kutub
Selama ini, banyak orang mengira bahwa ombak yang sampai di pantai hanya disebabkan oleh angin lokal di sekitarnya.
Namun, penelitian ini mematahkan pandangan tersebut. Penulis utama studi sekaligus profesor dari UniMelb, Ian Young, menjelaskan bahwa fenomena ini sebenarnya sudah mulai terendus sejak puluhan tahun lalu.
"Kita cenderung berpikir bahwa gelombang dihasilkan oleh angin di lingkungan sekitar," kata Profesor Ian Young dalam studi yang diterbitkan dalam Journal of Geographic Research: Oceans yang dikutip dari Xinhua News pada Jumat (5/6/2026).
"Faktanya, sejak tahun 1960-an para ilmuwan telah mengetahui bahwa sebagian besar gelombang dihasilkan oleh angin kencang dalam badai di wilayah kutub, dengan sebagian besar gelombang tersebut bermula di Samudra Selatan," lanjut Young.
Dipantau Lewat Ratusan Bola Basket Apung
Penelitian berskala global ini melibatkan kolaborasi lintas negara yang kuat, mulai dari ilmuwan Australia, Amerika Serikat, Cina, Selandia Baru, Chili, hingga Ekuador.
Untuk melacak pergerakan air ini, mereka memanfaatkan pelampung khusus berukuran sedikit lebih besar dari bola basket.
Pelampung-pelampung canggih ini dibiarkan hanyut bebas mengikuti arus dan gelombang laut global, sembari terus mengirimkan data lokasi mereka secara real-time setiap jam.
Tim peneliti memfokuskan analisis mereka pada data tahun 2023 di wilayah Khatulistiwa, area yang dikenal memiliki angin lokal cenderung lemah sehingga gelombang yang lewat di sana hampir pasti berasal dari badai di tempat yang sangat jauh.
Melalui alat ini, peneliti mendeteksi pergerakan gelombang hingga jarak 300 meter dan mengonfirmasi semuanya bermula dari amukan badai kutub.
Menyusut dari 10 Meter Menjadi 10 Sentimeter
Dari hasil pelacakan, ditemukan bahwa karakter gelombang memengaruhi waktu tempuhnya:
Gelombang terpanjang dan tercepat: Hanya membutuhkan waktu 12 hari untuk bermigrasi dari kutub selatan (Antartika) ke wilayah utara (Alaska).
Gelombang yang lebih pendek: Membutuhkan waktu lebih lama, berkisar antara 15 hingga 17 hari.
Perjalanan super jauh ini tentu mengubah bentuk fisik sang gelombang. Ketika pertama kali tercipta akibat amukan badai di Antartika, tinggi gelombang ini bisa mencapai 10 meter. Namun, setelah berjalan melintasi setengah bumi sejauh 14.000 km ke Alaska, energinya terkikis dan tingginya menyusut drastis hingga tersisa 10 sentimeter saja.
Dampak bagi Masa Depan Bumi
Meski terdengar seperti pengembaraan air yang puitis, pemahaman tentang pergerakan gelombang ini sangat krusial bagi masa depan bumi. Profesor Young mengingatkan bahwa dinamika gelombang laut memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia dan stabilitas alam.
"Gelombang laut sulit diukur, tetapi memiliki dampak signifikan pada banjir pesisir, erosi pantai, rute pelayaran, dan atmosfer, karena kadar karbon dioksida di lingkungan dipengaruhi oleh gelombang," jelas Young.
Lebih lanjut, Young juga memproyeksikan bahwa ukuran dan frekuensi gelombang laut global akan terus meningkat di masa depan seiring dengan efek pemanasan global. Hal ini dipicu oleh aktivitas badai di Samudra Selatan yang diprediksi akan menjadi jauh lebih sering dan jauh lebih besar.
PERISTIWA | 14 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu







