Pemanasan Global Akibatkan Kadar Oksigen Sungai Berkurang, Kawasan Tropis Paling Terancam

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 18 Mei 2026 | 06:00 WIB
Suasana Sungai Ciliwung di Kawasan Manggarai, Jakarta, Minggu (25/1/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Suasana Sungai Ciliwung di Kawasan Manggarai, Jakarta, Minggu (25/1/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Pemanasan global kini tidak hanya mengancam daratan, tetapi juga perlahan memengaruhi kehidupan di dalam air. 

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan perubahan iklim telah memicu penurunan kadar oksigen secara luas dan terus-menerus di berbagai sungai di seluruh dunia. 

Fenomena ini menjadi alarm bahaya yang mengancam kelangsungan ekosistem air tawar secara global.

Studi komprehensif yang telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science Advances ini digarap oleh tim ahli internasional yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Geografi dan Limnologi Nanjing (NIGLAS), lembaga di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Untuk memetakan kerusakan ini, tim peneliti menganalisis basis data yang membentang selama hampir 40 tahun dari 21.000 lebih jaringan sungai di berbagai belahan bumi.

Memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin (machine learning) tingkat lanjut, mereka berhasil melacak dinamika perubahan kadar oksigen sepanjang periode 1985 hingga 2023.

Sungai Tropis Jadi Korban Terparah

Hasil temuan para ilmuwan ini sangat mengkhawatirkan. Secara rata-rata global, sungai-sungai di bumi kehilangan kandungan oksigen dengan laju mencapai 0,045 miligram per liter per dekade. 

Ironisnya, hampir 80 persen dari total sungai yang diteliti menunjukkan tren penurunan kadar oksigen yang konsisten.

Menariknya, studi ini mematahkan prediksi lama. Sebelumnya, para ilmuwan memperkirakan sungai di wilayah lintang tinggi akan menjadi yang paling terdampak akibat pemanasan yang lebih intens di kutub. 

Namun, data justru menunjukkan bahwa sungai-sungai tropis yang membentang antara 20 derajat Lintang Selatan hingga 20 derajat Lintang Utara menjadi wilayah yang menderita kerusakan paling parah.

Kawasan tropis, yang mencakup banyak aliran sungai besar di Asia hingga Amerika Selatan, pada dasarnya sudah memiliki kadar oksigen bawaan yang rendah. 

Ketika suhu bumi memanas, sungai-sungai ini kehilangan oksigen jauh lebih cepat. Kondisi tersebut membuat ekosistem tropis sangat rentan terhadap fenomena kekurangan oksigen ekstrem yang dapat memicu kematian massal ikan dan biota air lainnya.

Air Hangat dan Gelombang Panas Jadi Biang Kerok

Para peneliti berhasil membedah faktor-faktor utama di balik krisis deoksigenasi ini:

  • Faktor Suhu Air (63%): Penurunan kelarutan oksigen akibat perubahan iklim menjadi penyebab paling dominan. Secara hukum alam, air yang suhunya lebih hangat tidak mampu mengikat dan menampung oksigen sebanyak air yang bersuhu dingin.
  • Gelombang Panas (23%): Cuaca ekstrem dan gelombang panas berperan besar mempercepat penurunan kadar oksigen global sebesar 0,01 miligram per liter per dekade, jauh lebih cepat dibanding kondisi cuaca normal.
  • Metabolisme Ekosistem (12%): Pergeseran metabolisme lingkungan yang dipengaruhi oleh kombinasi perubahan suhu, intensitas cahaya, dan pola aliran air menyumbang sisa persentase penurunan tersebut.

Di sisi lain, studi ini juga mencatat bahwa kondisi volume aliran air yang sangat rendah atau sangat tinggi sedikit memberikan efek redam. 

Aliran air yang sangat rendah mampu memperlambat laju deoksigenasi sekitar 19 persen dibandingkan kondisi normal, sementara aliran air yang sangat tinggi menguranginya sebesar 7 persen. Namun, efek pelambatan ini tidak cukup untuk menahan laju kerusakan yang sedang terjadi.

Menanggapi ancaman nyata terhadap keanekaragaman hayati ini, para peneliti mendesak para pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk segera mengambil langkah konkret.

Strategi penyelamatan lingkungan yang efektif sangat dibutuhkan, terutama di negara-negara tropis yang berada di garis depan krisis ini.

Urgensi penyelamatan ini ditegaskan langsung oleh salah satu peneliti utama dari NIGLAS, Shi Kun.

“Studi ini memberikan landasan yang sangat dibutuhkan untuk memahami dan mengurangi kehilangan oksigen di sungai-sungai di seluruh dunia. Seiring berlanjutnya pemanasan iklim, melindungi ‘napas’ sungai-sungai kita mungkin menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di zaman kita,” kata Shi Kun.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: