Wabah Ebola di Kongo Tembus 837 Kasus, WHO Soroti Penolakan Warga dan Teror Senjata

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 17 Juni 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)

BeritaNasional.com - Situasi krisis kesehatan di Republik Demokratik Kongo (DRC) kian mengkhawatirkan. Otoritas kesehatan setempat bersama mitra internasional mengeluarkan peringatan keras setelah jumlah kasus positif virus Ebola di negara tersebut melonjak drastis menyentuh angka 837 kasus.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan DRC, keganasan wabah yang dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo ini telah merenggut 196 korban jiwa. 

Dengan angka tersebut, tingkat kematian (case fatality rate) kini berada di kisaran 23,4 persen. Sementara itu, tercatat baru 49 pasien yang dinyatakan pulih dan 376 lainnya masih harus menjalani isolasi ketat.

Saat ini, episentrum penyebaran virus masih terkonsentrasi di sejumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Ituri, meliputi wilayah Bunia, Mongbwalu, dan Rwampara. 

Kendati demikian, laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan adanya perluasan geografis yang signifikan.

WHO menjelaskan penanggulangan medis di lapangan menghadapi jalan buntu akibat berbagai faktor yang saling tumpang tindih. 

Mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan dan tingginya aktivitas di sektor pertambangan membuat rantai penularan terus berjalan aktif.

"Meluasnya persebaran geografis zona kesehatan yang terdampak, tingkat pelacakan kontak yang kurang optimal di beberapa provinsi, dan ketidakamanan yang berkelanjutan terus mempersulit operasi penanggulangan," tulis laporan resmi WHO yang dikutip dari  Xinhua News pada Rabu (17/6/2026).

Situasi kian diperparah oleh kondisi internal wilayah timur Kongo yang telah lama dilanda konflik bersenjata sejak wabah ini pertama kali diumumkan pada 15 Mei 2026.

Kombinasi antara kekerasan, gelombang pengungsian warga, dan rapuhnya infrastruktur kesehatan lokal membuat tim medis kesulitan menekan laju penyebaran virus, baik di dalam negeri maupun ke negara-negara tetangga.

Penolakan Warga dan Penculikan Pasien

Selain faktor geografis dan konflik, WHO menyoroti adanya resistensi atau penolakan dari sebagian kelompok masyarakat setempat terhadap upaya penanganan medis. Ironisnya, kendala keamanan ini terkadang melibatkan aksi kekerasan langsung.

Di Provinsi Kivu Utara, otoritas kesehatan melaporkan sebuah insiden mengerikan di mana seorang wanita bersama anaknya yang telah terkonfirmasi positif Ebola dibawa kabur secara paksa oleh sekelompok orang bersenjata. Insiden ini memicu kekhawatiran besar akan potensi ledakan klaster penularan baru yang tidak terkontrol.

Ancaman Lintas Batas di Uganda

Melihat perluasan wilayah terdampak yang kini merembet hingga ke Kivu Utara dan Ituri, risiko penularan sekunder lintas batas menjadi ancaman nyata bagi negara sekitar, terutama Uganda.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika melaporkan bahwa sejauh ini Uganda telah mencatatkan 19 kasus konfirmasi dengan dua angka kematian. 

Meski WHO memastikan belum ada laporan kasus baru di Uganda dalam periode pelaporan terakhir, ikatan epidemiologis yang kuat dengan pergerakan masyarakat di Kongo membuat alarm kewaspadaan di wilayah perbatasan tetap menyala merah.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: