Protes Anti-Imigran Makin Meluas di Afrika Selatan, Ribuan WNA Berdesakan di Pengungsian

Oleh: Kiswondari
Senin, 06 Juli 2026 | 23:01 WIB
Ribuan WNA berdesakan di kamp pengungsian di tengah protes anti-imigran di Afrika Selatan, Senin (6/7/2026). (BeritaNasional/Viory)
Ribuan WNA berdesakan di kamp pengungsian di tengah protes anti-imigran di Afrika Selatan, Senin (6/7/2026). (BeritaNasional/Viory)

BeritaNasional.com - Di tengah maraknya protes anti-imigran yang terjadi di Afrika Selatan, banyak warga negara asing (WNA) yang meninggalkan kota-kota di Afrika Selatan dan ribuan di antaranya ditampung di pusat repatriasi sementara di luar Musina, dekat perbatasan Afrika Selatan dengan Zimbabwe sebelum kembali ke negara masing-masing.

Melansir Viory pada Senin (6/7/2026), rekaman video menunjukkan sejumlah keluarga tengah menunggu di dalam tenda-tenda besar di fasilitas Proefplaas Farm, dengan pria, wanita, dan anak-anak yang ditempatkan secara terpisah sambil menunggu transportasi pulang ke negara mereka.

Seorang warga negara Zimbabwe menegaskan bahwa ia tidak akan mau kembali lagi ke Afrika Selatan.

"Saya tidak akan kembali ke Afrika Selatan. Tidak akan pernah," kata seorang warga itu.

Kemudian, beberapa orang di kamp tersebut juga mengatakan bahwa kepadatan penduduk dan debu memperburuk kondisi kesehatan mereka yang sudah sulit.

"Kami sakit. Oh, kami sakit karena debu," kata seorang warga negara Malawi.

Sementara itu, seorang relawan mengatakan, kedatangan para WNA yang terus menerus terjadi memberikan tekanan berat pada kamp yang baru didirikan tersebut.

"Jadi ini tenda wanita dan anak-anak Zimbabwe. Mereka memisahkan pria dan wanita. Di sinilah para wanita dan anak-anak berada. Dan seperti yang Anda lihat, ini tidak ideal," kata Nithaam Bawa dari Gift of the Givers.

Bawa mengatakan, para WNA ini bisa menghabiskan satu atau dua hari di lokasi tersebut sebelum mendapatkan bus untuk pulang, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang sanitasi dan risiko penyakit.

"Mereka menunggu di sini sampai mereka bisa mendapatkan bus untuk pergi. Dan mungkin satu hari, mungkin dua hari. Kami telah memberi mereka sabun, kain lap, tisu basah bayi, dan popok. Itu kebutuhan yang sangat besar. Popok agar mereka bisa membersihkan diri dan membersihkan anak-anak mereka. Kami hanya khawatir tentang wabah penyakit di kamp, ​​terutama," jelas Bawa.

Sejumlah lembaga yakni, Gift of the Givers, gereja-gereja lokal, dan kelompok bantuan lainnya mendistribusikan makanan, air minum, sabun, dan perlengkapan bayi kepada keluarga yang menunggu untuk diproses.

"Jadi ada arus masuk orang yang konstan karena orang-orang pergi. Ada lebih banyak orang yang datang. Sayangnya, kamp saat ini sudah penuh sesak... fasilitas ini, saya pikir, telah mencapai kapasitas maksimum," ungkap Bawa.

Penyedia kamp tersebut mengatakan bahwa pengungsian tersebut pada akhirnya dapat menampung hingga 10.000 orang dari Zimbabwe, Malawi, dan Zambia. Kelompok-kelompok bantuan menambahkan, mereka juga sedang menyiapkan sebanyak 30.000 makanan per hari sementara proses lintas batas terus berlanjut.

Sebagai informasi, pada 30 Juni, ribuan demonstran anti-imigran turun ke jalan-jalan Johannesburg yang ditetapkan oleh kelompok-kelompok anti-asing sebagai hari pertama dari tenggat waktu tidak resmi bagi para migran tanpa dokumen untuk meninggalkan Afrika Selatan.

Afrika Selatan sendiri telah mengalami beberapa kali gelombang 'kekerasan xenofobia' selama bertahun-tahun, dengan para migran, khususnya dari negara lain di Afrika, sering disalahkan atas kejahatan, pengangguran, dan tekanan pada layanan publik.

Beberapa pemerintah negara Afrika juga telah menyiapkan rencana darurat dan operasi repatriasi untuk warga negara mereka, karena kekhawatiran akan kerusuhan yang semakin meningkat.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa juga mengakui adanya kekhawatiran tentang imigrasi ilegal, seraya mengutuk tindakan main hakim sendiri, dan menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan oleh pihak berwenang, bukan oleh masyarakat.

Sumber: Viorysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: