Sentimen Anti Imigran dan Diskriminasi Meluas di Afrika Selatan, Sejumlah Negara Repatriasi Warganya

Oleh: Kiswondari
Jumat, 12 Juni 2026 | 18:01 WIB
Sejumlah warga Nigeria dipulangkan kembali oleh pemerintah dari Afrika Selatan, Kamis (11/6/2026). (BeritaNasional/Viory)
Sejumlah warga Nigeria dipulangkan kembali oleh pemerintah dari Afrika Selatan, Kamis (11/6/2026). (BeritaNasional/Viory)

BeritaNasional.com - Sejumlah negara di Afrika memulangkan warga negara mereka dari Afrika Selatan di tengah menguatnya sentimen anti imigran dan diskriminasi di negara tersebut. Nigeria adalah salah satu negara di Afrika yang memulangkan warga negara mereka, kelompok pertama telah berhasil dievakuasi secara sukarela dan tiba di Lagos pada Kamis (11/6/2026) waktu setempat. 

Berdasarkan Rrekaman video yang dilansir dari Viory pada Jumat (12/6/2026), menunjukkan sekelompok warga Nigeria yang tiba dari Afrika Selatan, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak. Mereka disambut oleh pihak berwenang sebelum melanjutkan proses pendaftaran.

Mereka pun mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi saat tinggal di Afrika Selatan, dan mereka pun menggambarkan aksi diskriminasi yang mereka dan anak-anak mereka alami.

"Masalah di Afrika Selatan ada pada para pemimpinnya," kata Emeka Obodo, salah satu warga yang dipulangkan.

"Mereka benar-benar menjadikan semua orang imigran ilegal di negara mereka. Ketika Anda meminta dokumen, mereka tidak akan memberikannya kepada Anda, dan ketika Anda pergi untuk memprosesnya, mereka akan menangkap Anda," bebernya.

Seorang ibu dari tiga anak bernama Millie Abu mengungkapkan bagaimana Xenophobia memengaruhi anak-anak mereka saat di Afrika Selatan, bahkan hal itu juga dilakukan oleh guru-guru mereka di sekolah.

"Xenofobia tidak terlalu memengaruhi saya secara pribadi, tetapi memengaruhi anak saya. Guru-guru mendiskriminasi dan bersikap bias terhadapnya," kata Millie Abu.

Senada, ibu dari empat anak bernama Patience Chime,  mengatakan kondisi yang memburuk di Afrika Selatan membuat keluarganya tidak punya pilihan selain kembali ke rumah.

"Mereka meminta kami untuk pergi. Mereka menghentikan kami dari menjalankan bisnis kami. Mereka mengatakan kami tidak boleh berbisnis. Itulah mengapa kami memutuskan untuk kembali ke Nigeria," ungkapnya.

Sementara itu, otoritas Nigeria mengatakan, upaya negaranya saat ini adalah membantu para warga yang kembali untuk berintegrasi kembali ke masyarakat. Ini semua menjadi pekerjaan besar bagi pemerintahan Nigeria.

"Beberapa anak ini harus bersekolah. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan pemerintah negara bagian dan lokal tentang bagaimana mengintegrasikan kembali warga negara mereka, tetapi Presiden telah melakukan hal terbesar, yaitu membayar penerbangan mereka untuk kembali ke tanah air," kata Abike Dabiri, CEO Komisi Warga Nigeria untuk Diaspora.

Sebagai informasi, dalam beberapa bulan terakhir, terjadi lonjakan protes anti-imigran di Afrika Selatan, yang dipicu oleh kemarahan atas pengangguran, kemiskinan, dan tekanan pada layanan publik. Ghana, Nigeria, Malawi, dan Mozambik pun telah bergerak untuk memulangkan warga negara mereka yang terdampak setelah serangan xenofobia baru-baru ini.

Sebelumnya, Presiden Nigeria Bola Tinubu telah memerintahkan lima penerbangan evakuasi darurat yang didanai pemerintah untuk memulangkan lebih dari 1.000 warga negara Nigeria dari Afrika Selatan. Penerbangan pertama ini telah membawa pulang 262 penumpang bersama dengan tiga pejabat pemerintah pada Kamis pagi.

Di sisi lain, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa telah memperingatkan terhadap tindakan main hakim sendiri, dengan mengatakan bahwa tidak ada tempat untuk xenofobia, rasisme, seksisme, Afrophobia, atau bentuk intoleransi lainnya di Afrika Selatan.

Sumber: Viorysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: