Antisipasi Gejolak Global, BI Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Oleh: Tarmizi Hamdi
Jumat, 12 Juni 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)

BeritaNasional.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak akan lengah meski nilai tukar Rupiah saat ini menunjukkan tren penguatan. 

Sebagai antisipasi terhadap risiko ketidakpastian global, BI menyiapkan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah.

Strategi pemeliharaan stabilitas ini dilakukan secara komprehensif, baik melalui operasi di pasar keuangan domestik maupun pasar luar negeri (offshore). Langkah tersebut diambil secara disiplin, konsisten, dan terukur.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menegaskan komitmen bank sentral untuk terus mengawal pergerakan pasar keuangan demi memastikan fondasi ekonomi nasional tetap kokoh.

‘’Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi NDF (non-deliverable forward) di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF (domestic non-deliverable forward) di pasar domestik secara konsisten dan terukur,’’ kata Ramdan Denny kepada Beritanasional.com, Jumat (12/6/2026).

Jaga Daya Tarik Investasi Domestik

Selain melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, bagian dari strategi jangka panjang BI adalah dengan terus mempertahankan daya pikat pasar keuangan dalam negeri agar tetap kompetitif di mata dunia.

Ramdan menjelaskan BI akan terus memantau dinamika yang terjadi secara global maupun domestik untuk memastikan arus modal dari luar negeri tetap terjaga dengan baik.

‘’Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing,’’ kata Denny.

Upaya berlapis yang disiapkan BI ini sejatinya melanjutkan kesuksesan bauran kebijakan moneter yang telah dieksekusi sebelumnya. 

Langkah taktis BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) terbukti ampuh memicu kepercayaan pasar, yang kemudian diikuti oleh derasnya arus modal masuk (capital inflow).

‘’Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut,’’ ungkap Ramdan.

Suntikan modal asing ini te some kian nyata pasca-lelang instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada pertengahan pekan ini, yang juga diikuti oleh pulihnya pasar Surat Berharga Negara (SBN).

‘’Hal ini tecermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah,’’ papar Denny.

Berkat kombinasi masuknya modal asing dan kesiapan strategi stabilisasi dari BI, nilai tukar Rupiah kini merosot ke zona yang jauh lebih aman dan sukses memukul mundur dominasi dolar Amerika Serikat (AS).

‘’Sejalan dengan perkembangan tersebut, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penguatan dan kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS,’’ tandasnya.

Diketahui, mata uang rupiah pada Jumat (12/6/2026) pagi terpantau menguat 59 poin atau sekitar 0,33 persen ke posisi Rp17.930 per dolar AS setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya sempat tertahan di level Rp17.989 per dolar AS.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: