Trump Tunda Serangan Besar ke Iran, Pentagon Disebut Kekurangan Rudal

Oleh: Kiswondari
Senin, 27 Juli 2026 | 11:01 WIB
Rudal Griffin dari militer Amerika Serikat (AS). (BeritaNasional/CENTCOM)
Rudal Griffin dari militer Amerika Serikat (AS). (BeritaNasional/CENTCOM)

BeritaNasional.com - Amerika Serikat (AS) terpaksa harus menunda serangan besar-besaran terhadap Iran lantaran adanya kekhawatiran bahwa Pentagon kekurangan rudal pertahanan udara. Kedua negara saling melancarkan serangan selama hampir dua minggu sejak gencatan senjata yang dicapai pada pertengahan Juni 2026 itu runtuh, dan keduanya pun saling menuding adanya pelanggaran atas 14 poin nota kesepahaman yang mereka teken bersama.

Informasi ini dikutip New York Times (NYT) pada Sabtu (25/7/2026) dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui kondisi AS, sehingga Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menangguhkan serangannya.

Melansir Russia Today (RT) pada Senin (27/7/2026), pada Kamis (23/7/2026), Trump mengancam Iran dan Houthi dengan "hukuman militer besar-besaran" setelah kelompok yang berbasis di Yaman itu menyerang dua kapal tanker minyak Saudi, dan mengatakan kepada Axios bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran yang akan "lebih besar dari sebelumnya".

Keputusan penangguhan tersebut diambil Trump usai pertemuan dengan para penasihat senior dan pejabat kabinet sehari sebelumnya, di mana mereka fokus membahas tentang berkurangnya persediaan rudal pencegat Patriot dan sistem pertahanan udara lainnya di Pentagon.

Menurut dua orang yang diberi informasi tentang diskusi tersebut mengatakan kepada media bahwa para pejabat juga khawatir akan terjadinya perang regional yang lebih luas, yang akan mengasingkan sekutu-sekutu di Timur Tengah yang rentan terhadap pembalasan Iran, kemerosotan ekonomi global, dan krisis energi serta pengungsi yang semakin meningkat.

Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine kabarnya telah memperingatkan bahwa operasi besar dapat dilakukan tetapi akan sangat mengurangi jumlah rudal pencegat yang tersedia untuk Komando Pusat AS (CENTCOM). Namun, juru bicaranya menolak berkomentar ketika dihubungi oleh NYT.

“Hampir tidak ada, jika ada, di lingkaran dalam Tuan Trump yang percaya bahwa rencana untuk meningkatkan eskalasi itu bijaksana,” tulis NYT, mengutip dua orang yang diberi pengarahan tentang diskusi tersebut. Seorang pejabat senior AS juga berpendapat bahwa serangan lebih lanjut membuat Iran tetap bersatu dan fokus pada ancaman eksternal daripada memaksa mereka untuk bernegosiasi.

Di sisi lain, Direktur komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung mengatakan kepada NYT bahwa Trump "lebih menyukai solusi diplomatik" tetapi tetap mempertimbangkan "semua opsi" jika Teheran terus melakukan "aktivitas teroris" di Selat Hormuz atau terhadap sekutu AS.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada April 2026, memperkirakan bahwa rangkaian serangan awal tersebut menghabiskan setidaknya 45 persen dari Rudal Serangan Presisi Amerika, hampir setengah dari pencegat Patriot, lebih dari setengah dari rudal THAAD, dan sekitar 30 persen dari rudal jelajah Tomahawk.

Pada awal pekan ini, NYT dan Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat AS yang mengatakan bahwa rudal Iran semakin efektif menembus pertahanan AS karena kecepatan dan kemampuan manuvernya, serta taktik Iran yang terus berkembang.

Sebelumnya, diberitakan pada Jumat (17/7/2026) lalu bahwa tiga tentara AS tewas di Yordania ketika sebuah rudal balistik menembus pertahanan udara AS. Sementara seorang tentara tewas di Irak saat serangan amunisi dari drone Iran.

Terpisah, IRGC juga mengklaim bahwa serangan Iran melumpuhkan radar, komunikasi, dan sistem pertahanan udara AS di Kuwait, termasuk baterai Patriot, dan merusak beberapa drone MQ-9. Baik Washington maupun Kuwait belum mengkonfirmasi klaim tersebut.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: