AS Tunda Serangan ke Iran hingga Final Piala Dunia 2026 dan Trump Serahkan Trofi

Oleh: Kiswondari
Senin, 20 Juli 2026 | 17:01 WIB
Presiden AS Donald Trump bergabung dalam penyerahan trofi Piala Dunia 2026 ke Spanyol. (BeritaNasional/YT SBS)
Presiden AS Donald Trump bergabung dalam penyerahan trofi Piala Dunia 2026 ke Spanyol. (BeritaNasional/YT SBS)

BeritaNasional.com - Usai kesepakatan damai antara dua pemimpin negara itu gagal, Amerika Serikat (AS) dan Iran terus melancarkan berbagai serangan ke wilayah musuh. Namun, berbeda pada MInggu (19/7/2026), di mana AS memutuskan untuk menunda sementara serangan mereka usai final Piala Dunia FIFA 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina, hingga penyerahan trofi. 

Melansir Russia Today (RT) pada Senin (20/7/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa serangan baru tersebut dimulai pada pukul 19.00 Waktu Bagian Timur, sementara sebagian besar serangan malam sebelumnya diluncurkan antara pukul 12.00 dan 16:00.

“CENTCOM mulai melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada pukul 7 malam ET hari ini untuk malam kesembilan berturut-turut,” kata CENTCOM seraya mengklaim bahwa serangan tersebut akan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang diduga digunakan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Tidak seperti biasanya, AS mengakhiri serangannya yang berlangsung selama tiga jam jelang matahari terbit, dan mengakhiri salah satu operasi malam terpendek mereka. 

CENTCOM sendiri tidak menjelaskan soal waktu operasinya atau mengindikasikan bahwa serangan tersebut sengaja dijadwalkan bertepatan dengan final Piala Dunia 2026. Namun, Presiden AS Donald Trump menghadiri pertandingan tersebut di Stadion MetLife di New Jersey, yang berlangsung hingga perpanjangan waktu, dan bergabung dalam acara penyerahan trofi pasca pertandingan ke timnas Spanyol, yang berakhir sesaat sebelum serangan dimulai.

Dalam pernyataan itu, CENTCOM juga tidak menyebutkan pembalasan atas kematian dua anggota militer AS atau mengidentifikasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai target khusus. Sebaliknya, pernyataan malam sebelumnya menggambarkan bahwa serangan bom itu sebagai upaya untuk "menghukum dengan cepat" bagi mereka yang terlibat.

Dengan tewasnya dua anggota militernya, AS telah kehilangan tiga orang anggota dalam serangan Iran baru-baru ini di Yordania dan Irak, dengan satu jenazah lagi yang ditemukan di reruntuhan belum diidentifikasi.

Trump sendiri menyebut kematian itu sebagai "aib", namun menolak kritik terhadap perang tersebut dengan membandingkan korban jiwa dengan kerugian yang jauh lebih besar yang diderita di Vietnam dan Afghanistan.

Jatuhnya korban dari pihak AS ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran Washington bahwa Iran telah menjadi lebih efektif dalam menembus pertahanan udara Amerika. Bahkan, New York Times melaporkan, Teheran masih memiliki persediaan rudal yang cukup dan telah menjadi lebih mahir dalam menghindari sistem pencegatan AS, sementara Wall Street Journal mengatakan pasukan Iran telah beradaptasi dengan mengerahkan rudal berkecepatan tinggi dan mudah bermanuver.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: