Perang dengan Iran Makin Panas, AS Rilis Travel Warning Global

Oleh: Kiswondari
Minggu, 19 Juli 2026 | 17:11 WIB
Konflik AS Iran yang kembali memanas. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Konflik AS Iran yang kembali memanas. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com - Di tengah eskalasi konflik dengan Iran, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan perjalanan dan keamanan global, sekaligus meminta warga negara Amerika untuk meningkatkan kewaspadaan mereka terkait memanasnya kembali konflik AS-Iran, khususnya yang berada di Timur Tengah. 

“Karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, lingkungan keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga,” tulis pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada hari Sabtu (18/7/2026) yang dilansir dari Russia Today (RT), Minggu (19/7/2026).

Washington juga menyarankan warga AS di seluruh dunia, khususnya mereka yang berada di wilayah Timur Tengah untuk memantau perkembangan terkini dan mengikuti instruksi yang dikeluarkan oleh kedutaan atau konsulat Amerika terdekat.

Sebagai informasi, seiring dengan peringatan tersebut, terjadi pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara secara berkala yang menyebabkan gangguan perjalanan.

Disebutkan pula bahwa fasilitas diplomatik AS telah menjadi sasaran, termasuk yang berada di luar Timur Tengah, dan memperingatkan bahwa kelompok pro-Iran dapat menyerang “kepentingan AS lainnya di luar negeri atau lokasi yang terkait dengan Amerika Serikat dan/atau warga Amerika di seluruh dunia.”

Peringatan perjalanan itu muncul beberapa jam setelah CENTCOM (Komando Pusat AS) mengonfirmasi dua prajurit AS tewas di Yordania pada hari Jumat (17/7/2026) ketika pasukan AS dan sekutu mempertahankan Kerajaan Yordania dari rudal balistik dan drone Iran.

Dengan kematian terbaru itu, jumlah personil AS yang tewas dalam perang AS-Israel melawan Iran sejak bulan Februari 2026 menjadi 16 orang.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tidak mengunggah ap pun di Truth Social selama lebih dari 24 jam dan hanya memberikan tanggapan singkat ketika NewsNation dan New York Post menghubunginya terkait kematian tersebut.

Sebelumnya, CENTCOM mengumumkan bahwa serangan terbaru mereka lebih lambat dari biasanya pada Sabtu (28/7/2026) malam, setelah memilih diam di sepanjang hari itu, dan mengklaim bahwa serangan tersebut dimaksudkan untuk "menghukum dengan cepat" pasukan IRGC yang bertanggung jawab atas kematian anggota militer Amerika.

Di sisi lain, Media Iran mengakui adanya beberapa serangan rudal di Pulau Qeshm dan di kota-kota pelabuhan terdekat Bandar Abbas dan Sirik semalam. Namun, intensitas pemboman tampak jauh lebih rendah daripada selama tujuh malam sebelumnya, ketika beberapa jembatan dan target infrastruktur lainnya dihantam.

Iran pun melakukan serangan balasan hampir setiap hari menggunakan rudal dan drone terhadap fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah sejak Washington melanjutkan serangan skala besar awal bulan ini. Teheran telah menargetkan pangkalan dan fasilitas lain yang terkait dengan Amerika di Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman, serta di Irak dan Suriah.

Sebelumnya usai pemakaman Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei bersumpah akan memberi pelajaran yang tak terlupakan kepada AS, setelah Teheran berulang kali memperingatkan bahwa "seluruh kawasan akan menanggung akibatnya" atas serangan Amerika terhadap infrastruktur sipil Iran.

Dari pihak Iran, data pada Sabtu kemarin, Kementerian Kesehatan Iran mencatat bahwa serangan AS antara 27 Juni dan 18 Juli telah menewaskan 50 orang, termasuk wanita dan anak-anak, dan melukai lebih dari 500 orang. Diperkirakan 3.500 warga Iran tewas dalam serangan putaran pertama yang diluncurkan pada Februari 2026 termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarganya, sementara operasi Israel di Lebanon dilaporkan menelan korban jiwa sebanyak 4.300 orang lainnya.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: