Iran Tak Ingin Lagi Hadapi Diplomasi Tekanan dari Amerika Serikat
BeritaNasional.com - Iran berupaya mengakhiri pola diplomasi penuh tekanan yang selama ini dilakukan Amerika Serikat dalam hubungan kedua negara.
Teheran menilai pendekatan Washington masih menggunakan strategi tekanan sebelum menawarkan kerja sama ekonomi.
Profesor Universitas Iran, Hakimeh Saghaye-Biria, mengatakan AS selama bertahun-tahun menerapkan apa yang disebut sebagai coercive diplomacy atau diplomasi koersif terhadap Iran.
Menurutnya, tawaran hubungan ekonomi dengan komunitas internasional menjadi "insentif" yang diberikan AS, tetapi tetap dibarengi tekanan agar Iran mengikuti keinginan Washington.
“Iran berusaha memutus siklus tersebut dengan menolak anggapan bahwa mereka hanya diberi pilihan antara menerima tawaran atau menghadapi tekanan,” ujar Saghaye-Biria, seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (11/6/2026).
Saghaye-Biria menilai hubungan Iran dan Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketegangan selama 25 tahun terakhir.
Ia menyebut Iran memiliki alasan untuk tidak sepenuhnya percaya kepada komunitas internasional, termasuk AS, sebagaimana Washington juga kerap mempertanyakan tingkat kepercayaan terhadap Teheran.
Menurutnya, persoalan hubungan kedua negara tidak hanya berkaitan dengan keputusan terbaru, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman panjang kedua pihak.
Iran Ancam Hentikan Komitmen MoU dengan AS
Di tengah ketegangan yang meningkat, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, memperingatkan bahwa Teheran dapat menghentikan pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat jika pelanggaran terus terjadi.
Iravani menuduh AS melakukan pelanggaran terhadap Piagam PBB terkait serangan terhadap sejumlah wilayah Iran pada 7 dan 8 Juli.
Ia mengatakan Iran masih berkomitmen menjalankan kesepakatan tersebut, dengan syarat Amerika Serikat juga memenuhi kewajibannya secara penuh.
“Jika Amerika Serikat terus melanggar kewajibannya dalam MoU, Iran tidak lagi terikat untuk memenuhi kewajibannya,” kata Iravani kepada wartawan di luar Dewan Keamanan PBB.
HUKUM | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 14 jam yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





