Trump Ambil Alih Selat Hormuz dan Minta Dibayar sebagai "Malaikat Pelindung"

Oleh: Kiswondari
Selasa, 14 Juli 2026 | 19:01 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (BeritaNasional/ChatGPT)
Ilustrasi Selat Hormuz. (BeritaNasional/ChatGPT)

BeritaNasional.com - Ketika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas sejak awal Juli akibat Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa negaranya mengambil alih jalur pelayaran tersebut dari Iran, serta mengaku sebagai "malaikat pelindung" bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dan akan dibayar untuk itu. Hal ini menanggapi pernyataan Iran yang menutup jalur pelayaran itu yang kesal dengan campur tangan AS. 

Melansir Russia Today (RT) pada Selasa (14/7/2026), saat berbicara lewat telepon dengan 'Fox & Friends' pada Senin (13/7/2026), Trump mengatakan Iran sedang "dihajar habis-habisan" dalam perang melawan AS, menegaskan bahwa angkatan laut, angkatan udara, dan kemampuan rudal negara itu telah "hampir musnah" dan menyebutkan nama-nama pemimpin senior Iran yang diklaimnya telah tewas. 

Menurut Trump, pasukan AS terus melakukan serangan terhadap target-target Iran setelah dia menyatakan gencatan senjata dengan Teheran telah "berakhir" pada akhir pekan lalu.

“Kita akan menguasai selat ini. Mereka tidak punya apa-apa,” ucap Trump, yang menambahkan bahwa Washington seharusnya menangani apa yang disebutnya ancaman Iran “47 tahun yang lalu”. Ia pun menuduh presiden-presiden AS sebelumnya telah “dipermainkan” oleh Teheran tanpa mengambil tindakan tegas.

Sebagai informasi, penguasaan Selat Hormuz sebagai jalur vital untuk pengiriman minyak dan gas alam cair global kini menjadi titik konflik utama di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel yang mengejutkan terhadap Iran pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarga dekatnya.

Sebelum itu, dalam sebuah unggahan X Otoritas Selat Teluk Persia Iran pada Senin (13/7/2026), Teheran secara resmi menyatakan selat tersebut tertutup, seraya menyalahkan "tindakan permusuhan" oleh pasukan AS, yang mengatakan bahwa jalur pelayaran hanya akan dibuka kembali setelah "stabilitas dan ketenangan" dipulihkan.

Usai gencatan senjata pada April 2026 lalu, serangan udara reguler sempat berhenti dan berujung pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni. Namun, permusuhan kembali terjadi karena kedua pihak berselisih mengenai interpretasi MoU dan status selat tersebut.

Sementara AS terus menyerang target di Iran pada Senin pagi yang telah menyerang selama empat hari berturut-turut. Iran pun merespons dengan menembakkan rudal dan drone ke situs militer AS di Yordania, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman.

“Kami telah melakukan sepuluh kesepakatan dengan orang-orang ini, jadi kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” klaim Trump, menambahkan bahwa AS akan “menjaga” Hormuz dan akan dibayar “banyak uang”. 

Berdasarkan MoU perdamaian, Iran berjanji untuk menggunakan “upaya terbaiknya untuk memastikan pelayaran kapal komersial yang aman tanpa biaya” selama periode 60 hari dan untuk bernegosiasi dengan Oman mengenai “administrasi dan layanan maritim di masa mendatang” di selat tersebut.

Teheran menegaskan, mereka berhak untuk mengatur lalu lintas, memungut bea, dan mewajibkan kapal untuk menggunakan rute yang telah ditentukan. Lalu Washington menuntut agar Iran menyatakan selat tersebut sepenuhnya terbuka dan telah memandu kapal-kapal melalui rute yang lebih dekat ke pantai Oman, yang dikecam oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai tindakan ilegal.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: