Trump Mendadak Ganti Pesawat dari KTT NATO, Ancaman Balas Dendam Jadi Pemicu

Oleh: Kiswondari
Minggu, 26 Juli 2026 | 15:57 WIB
Presiden AS Donald Trump memamerkan Air Force One baru hadiah dari keluarga kerajaan Qatar pada 23 Juni 2026. (BeritaNasional/White House)
Presiden AS Donald Trump memamerkan Air Force One baru hadiah dari keluarga kerajaan Qatar pada 23 Juni 2026. (BeritaNasional/White House)

BeritaNasional.com - Usai dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Turki, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berganti pesawat tiba-tiba dengan pesawat Air Force One lama. Keputusan ini kabarnya terkait dengan dugaan upaya pembunuhan Trump sebagai balas dendam atas kematian mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Kondisi tersebut dilaporkan New York Times (NYT) pada Jumat (24/7/2026), mengutip keterangan sejumlah pihak yang mengetahui kondisi tersebut. 

Usai KTT, Trump terbang keluar dari Ankara menggunakan pesawat Air Force One lama, bukan Boeing 747-8 baru sumbangan keluarga Kerajaan Qatar yang tidak memiliki kemampuan pertahanan yang sama. Para pejabat AS pun percaya bahwa ada ancaman nyata dari "pasukan proksi Iran" terhadap nyawa presiden.

Pergantian pesawat secara tiba-tiba itu dilakukan bertepatan dengan laporan bahwa Israel telah berbagi informasi intelijen dengan AS yang menunjukkan bahwa Iran berencana untuk menargetkan Trump. Namun, menurut NYT, beberapa pejabat AS percaya adanya peran Israel yang mencoba memprovokasi Trump untuk meningkatkan serangan terhadap Iran.

Diketahui, dalam serangan 28 Februari lalu, AS dan Israel menewaskan puluhan pejabat senior dan komandan militer Iran dalam serangan mereka, termasuk pemimpin tertinggi Iran yang telah lama berkuasa, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan yang ditargetkan pada kompleks kediamannya di Teheran pada 28 Februari.

Usai pemakaman Ali Khamenei pada awal Juli 2026, pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah untuk membalaskan dendam ayahnya, tanpa menyebut nama Trump. Namun, banyak demonstran di Iran menyerukan kematian Trump selama prosesi pemakaman Khamenei senior dan pejabat lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Trump kemudian mengklaim bahwa dirinya masuk dalam daftar target Iran dan memperingatkan bahwa ribuan rudal akan ditembakkan ke negara itu jika Iran mencoba membunuhnya.

Sementara itu, gencatan senjata antara kedua negara tersebut runtuh, ketika AS melanjutkan serangan terhadap Iran sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pada awal Juli 2026. Kedua negara sebelumnya berselisih karena perbedaan interpretasi nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: