Kinerja Anjlok, IBM Tegaskan AI Tak Akan Matikan Bisnis Komputer Mainframe
BeritaNasional.com - Raksasa teknologi IBM resmi merilis laporan pendapatan kuartal terbaru. Meski masih membukukan angka yang fantastis, hasil kali ini meleset jauh dari ekspektasi Wall Street dan memicu kekhawatiran pasar.
Perusahaan berusia 115 tahun tersebut mencatat pendapatan sebesar USD 17,2 miliar dengan laba kotor USD 9,9 miliar serta laba bersih mencapai USD 2,2 miliar. Kendati demikian, performa ini dinilai sebagai rapor merah bagi perusahaan.
Antisipasi buruknya kinerja keuangan ini bahkan membuat CEO IBM Arvind Krishna bersama dewan direksi mengambil langkah antisipatif.
Pekan lalu, mereka menerbitkan surat kepada investor sebagai peringatan awal bahwa pendapatan kuartal ini lebih buruk dari perkiraan.
Dampaknya, saham IBM langsung anjlok 25 persen setelah sebelumnya sempat melesat berkat tren pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).
Efek Domino Anjloknya Bisnis Mainframe
Pukulan terberat dialami oleh sektor infrastruktur penting milik IBM. Bisnis komputer mainframe andalan mereka dilaporkan mengalami penurunan tajam hingga 42 persen.
Kondisi ini memicu efek domino pada pos pendapatan lain. CFO IBM Jim Kavanaugh menjelaskan bisnis mainframe memiliki korelasi kuat dengan produk digital.
Untuk setiap USD 1 perangkat keras mainframe yang terjual, IBM biasanya mampu menghasilkan pendapatan perangkat lunak sebesar USD 3. Ketika penjualan mainframe macet, pendapatan perangkat lunak pun ikut terseret.
Akibat kuartal yang buruk ini, IBM terpaksa menurunkan target perkiraan pertumbuhan untuk setahun penuh.
Anggaran Dialihkan Akibat Lonjakan Biaya AI
Manajemen IBM menegaskan bahwa situasi ini hanyalah gangguan sementara. Lonjakan popularitas AI yang sempat melambungkan IBM, kini justru menjadi bumerang jangka pendek.
Arvind Krishna mengungkapkan ada puluhan pelanggan besar yang menunda pembelian sistem mainframe baru.
Penundaan dari segelintir klien ini berdampak masif karena satu sistem mainframe beserta kontrak perawatannya bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar.
Menurut Krishna, para klien terpaksa mengalihkan anggaran mereka karena menghadapi lonjakan harga perangkat keras lain seperti PC dan peralatan pusat data, yang naik kisaran 15 persen hingga 30 persen.
“Ketika dihadapkan pada masalah itu, mereka memutuskan untuk mengalihkan anggaran ke sektor-sektor yang mengalami kenaikan harga tinggi tersebut,” jelas Krishna yang dikutip dari TechCrunch pada Kamis (23/7/2026).
Kenaikan harga komponen seperti memori akibat masifnya pengembangan AI global sebelumnya juga telah dikeluhkan oleh para produsen perangkat keras lain seperti Dell, HP, hingga Apple.
Mainframe Diklaim Tetap Tangguh
Meski diterpa sentimen negatif, Krishna optimistis para pelanggan segera kembali membeli unit mainframe baru beserta kontrak perangkat lunaknya.
Bahkan, beberapa klien dilaporkan sudah mulai melakukan transaksi pada kuartal berjalan ini.
"Kami tidak melihat adanya bukti bahwa klien mulai meninggalkan mainframe," tegas Krishna.
Industri teknologi sendiri telah berulang kali memprediksi kematian komputer mainframe selama beberapa dekade terakhir. Namun, hingga saat ini, lini bisnis konvensional milik IBM tersebut terbukti masih mampu bertahan, bahkan di tengah gempuran era AI.
Sumber: TechCrunch
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







