Trump Kaitkan Kesepakatan Nuklir Saudi dengan Normalisasi Hubungan Israel
BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi hanya akan berjalan jika Riyadh bergabung dalam Abraham Accords atau menormalisasi hubungan dengan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social, sehari setelah AS dan Arab Saudi mengumumkan kesepakatan kerja sama nuklir.
Trump menyebut perjanjian itu tetap harus mendapat persetujuan, tetapi sepenuhnya bergantung pada keputusan Saudi bergabung dengan pakta normalisasi tersebut.
"Kesepakatan ini akan disetujui, tetapi sepenuhnya bergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords," tulis Trump di Truth Social, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tersebut. Jika Riyadh menyetujui normalisasi hubungan dengan Israel, langkah itu akan menjadi perubahan besar mengingat selama ini Saudi belum membuka hubungan diplomatik penuh dengan negara tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump kemungkinan belum berbicara langsung dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setelah unggahan tersebut dibuat. Namun, isu normalisasi hubungan sebelumnya telah dibahas dalam sejumlah komunikasi kedua pihak.
Kesepakatan Nuklir Saudi-AS Masih Guncang Timur Tengah
Pernyataan Trump muncul sehari setelah Departemen Energi AS mengumumkan kesepakatan kerja sama nuklir damai dengan Arab Saudi.
Perjanjian tersebut mencakup kemitraan jangka panjang bernilai miliaran dolar serta kesepakatan perlindungan terkait pengembangan program nuklir sipil Saudi. Kesepakatan itu masih harus mendapat persetujuan Kongres AS.
Sejumlah laporan menyebut perjanjian tersebut berpotensi membuka peluang bagi Saudi untuk melakukan pengayaan uranium secara mandiri.
Jika benar, hal itu akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan Washington yang selama ini membatasi transfer teknologi pengayaan nuklir ke negara lain.
Namun, Trump membantah adanya rencana pengayaan uranium dalam kerja sama tersebut. Ia menegaskan AS hanya mendukung fasilitas nuklir sipil tanpa pengayaan material.
Teknologi pengayaan uranium menjadi isu sensitif karena selain digunakan untuk bahan bakar nuklir sipil, proses tersebut juga dapat dikembangkan untuk kebutuhan senjata nuklir jika dilakukan pada tingkat tertentu.
Isu ini sebelumnya menjadi salah satu titik ketegangan dalam konflik Amerika Serikat dan Iran, yang selama ini mempertahankan hak melakukan pengayaan uranium dengan alasan kedaulatan nasional.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu







