Gagasan Danantara Lahir dari Sumitro Djojohadikusumo Orangtua Presiden Prabowo

BeritaNasional.com - Dibalik Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), turut menyimpan makna emosional bagi Presiden Prabowo Subianto. Karena, gagasan ini lahir dari orangtuanya, Sumitro Djojohadikusumo.
Demikian disampaikan Deputi I Bidang Materi Komunikasi dan Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Muhammad Isra Ramli atas makna penting pembentukan Danatara.
“Danantara itu adalah cita-cita lama Pak Sumitro sebenarnya. Cita-cita lama Pak Sumitro untuk menciptakan mesin kedua pembangunan,” kata Isra dalam diskusi yang digelar Nawasena Indonesia Emas di Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025).
Dalam paparannya, Isra menyebut kalau gagasan Danantara telah dicanangkan Sumitro Djojohadikusumo yang pada saat itu telah menjadi salah satu ekonom terkemuka di Indonesia era Presiden Soeharto.
Namun seiring berjalannya waktu, sayangnya gagasan dari Sumitro Djojohadikusumo yang telah diadopsi oleh beberapa negara ASEAN, tidak dijalankan oleh beberapa pemimpin sebelum Presiden Prabowo.
“Jadi mesin pertamanya itu adalah APBN yang setiap tahun itu habis. Tapi harus ada mesin kedua yang lebih besar dan akumulatif. Nah ide ini dulu sama Pak Harto disampaikan ke Lee Kuan Yew, ke Mahathir Muhammad, ke pimpinan -pimpinan di ASEAN. Sama mereka dikerjakan Pak,” kata dia.
“Indonesia nggak ngerjain, makanya akhirnya jadinya cuma BUMN. BUMN itu walaupun beberapa itu dapat tugas buat menyediakan layanan dan kebutuhan rakyat, tapi pada dasarnya dia berputar kepada kepentingan perusahaannya sendiri. Nah kita pengen ada mesin kedua yang bisa mengkonsolidasikan itu,” tambahnya.
Padahal, potensi keuangan negara yang bisa dikelola Danantara cukuplah besar mencapai kurang lebih Rp15 triliun atau kurang lebih hampir lima kali lipat dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
“Sehingga kita tidak perlu lagi mengemis-ngemis kepada negara lain untuk membiayai investasi di Indonesia,” tuturnya.
Sementara apabila mengandalkan APBN dianggap kurang maksimal. Meskipun telah mencoba adanya penghematan namun seluruh dana APBN sejatinya merupakan anggaran rutin yang telah terikat dengan kewajipan-kewajipan negara.
“Jadi ada pembiayaan rutin, ada transfer ke daerah, ada pembiayaan bayar hutang dan bunga dan macam-macam.Jadi ruang fiskalnya itu tipis, kecil. Karena itulah beliau membuat terobosan- terobosan untuk memperbesar ruang fiskal tadi. Ruang fiskal salah satunya misalnya dengan didirikannya Danantara,” ungkapnya.
8 bulan yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 6 jam yang lalu
HUKUM | 23 jam yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu