Hindari Kerugian, Ini Pentingnya Melakukan Rekonsiliasi Bank

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Kamis, 02 Juli 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi buku bank (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi buku bank (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Menggunakan jasa perbankan dalam menyimpan dan melakukan aktifitas finansial tentu sangat membantu apalagi kini semakin cepat laju perubahan zaman seperti era digital sekarang. Meski sangat memudahkan, namun kita sebagai pemilik uang tetap harus punya kontrol atas uang yang sudah kita percayakan tersebut agar tidak muncul kesalahan yang berujung pada kerugian. 

Salah satu yang sering terjadi yakni kesalahan selisih pencatatan uang di rekening bank. Hal ini sering kali dianggap sepele. Padahal dampaknya bisa menjadi besar bagi kondisi keuangan apalagi untuk aktifitas bisnis. Bayangkan ketika saldo di pembukuan menunjukkan angka aman, sedangkan yang ada di rekening bank berbeda.

Tanpa rekonsiliasi bank, kita berisiko mengambil keputusan keuangan yang salah, mulai dari pembayaran, investasi sampai perencanaan kas harian.

Maka penting memahami proses ini menjadi langkah penting agar setiap rupiah tercatat dengan benar. 

Agar tidak bingung yuk simak ulasan singkatnya berikut ini dilansir dari laman Pegadaian.

 

Pengertian Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi bank merupakan proses mencocokkan saldo kas yang tercatat di pembukuan perusahaan dengan saldo yang tertera pada laporan bank atau rekening koran.

Tujuan utamanya yaitu memastikan seluruh transaksi, baik penerimaan maupun pengeluaran, telah dicatat dengan benar oleh kedua pihak. Jika terdapat selisih, maka perbedaan tersebut harus ditelusuri dan disesuaikan.

Proses ini umumnya dilakukan secara rutin, minimal sebulan sekali atau bahkan mingguan, agar kesalahan pencatatan dapat segera diketahui sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar.

 

Penyebab Rekonsiliasi Bank

  1. Cek yang sudah diterbitkan tetapi belum dicairkan.
  2. Setoran yang masih dalam proses pencatatan bank.
  3. Biaya administrasi bank yang belum dibukukan.
  4. Pendapatan bunga dari bank yang belum dicatat.
  5. Transaksi otomatis seperti autodebet yang belum tercatat.
  6. Kesalahan input data atau pencatatan ganda.
  7. Cek kosong akibat saldo tidak mencukupi.


Berbagai faktor di atas membuat saldo di buku dan di bank jarang langsung sama sehingga perlu dilakukan rekonsiliasi secara berkala.

Tujuan Rekonsiliasi Bank

  • Mencocokkan saldo kas perusahaan dengan saldo bank.
  • Menemukan perbedaan pencatatan dan menelusuri penyebabnya.
  • Memastikan seluruh transaksi tercatat secara benar dan teliti.
  • Mengontrol penggunaan dana agar tidak terjadi kelebihan pengeluaran.
  • Mencegah kesalahan, kecurangan, atau penyelewengan dana.
  • Membantu perusahaan membuat keputusan keuangan yang lebih akurat.

 

Komponen Rekonsiliasi Bank

1. Setoran dalam Proses (Deposit in Transit)

Setoran yang sudah diterima dan dicatat perusahaan, tetapi belum tercatat oleh bank karena masih dalam proses. Akibatnya, saldo perusahaan lebih besar dibanding laporan bank.

2. Cek Beredar (Outstanding Check)

Cek yang sudah dikeluarkan perusahaan, namun belum dicairkan penerima. Saldo buku perusahaan sudah berkurang, tetapi saldo bank masih terlihat lebih tinggi.

3. Cek Kosong (Non-Sufficient Fund Check)

Cek yang tidak dapat dicairkan karena saldo tidak mencukupi. Bank biasanya tetap mengenakan biaya sehingga saldo rekening berkurang tanpa tercatat di pembukuan perusahaan.

 

Proses Rekonsiliasi Bank

1. Bandingkan Saldo Buku Kas dengan Rekening Koran Bank

Tahap pertama dimulai dengan membandingkan saldo akhir kas perusahaan pada buku besar dengan saldo yang tercantum pada rekening koran dari bank pada periode yang sama.

Rekening koran biasanya memuat seluruh aktivitas transaksi, seperti setoran, penarikan, cek, biaya administrasi, hingga bunga bank. Dari sini, kamu bisa melihat gambaran riil arus keluar-masuk uang di rekening.

Pada praktiknya, kedua saldo hampir tidak pernah langsung sama. Perbedaan ini wajar terjadi karena ada transaksi yang belum tercatat atau masih dalam proses. Oleh sebab itu, tahap ini berfungsi sebagai titik awal untuk mengidentifikasi adanya selisih.

2. Catat Seluruh Transaksi yang Tercatat di Bank

Setelah menemukan perbedaan, langkah berikutnya adalah menyalin seluruh transaksi yang muncul di rekening koran ke dalam pembukuan perusahaan.
 

Beberapa transaksi sering kali dilakukan otomatis oleh bank tanpa pemberitahuan langsung

  • Biaya administrasi bulanan,
  • Biaya transfer atau penalti,
  • Pendapatan bunga,
  • Autodebet pembayaran tertentu.


Jika transaksi ini belum dicatat di buku kas, maka saldo perusahaan akan terlihat tidak akurat. Dengan mencatatnya terlebih dahulu, kamu memastikan bahwa pembukuan sudah mencerminkan kondisi sebenarnya.

Tahap ini membantu mengurangi selisih sebelum masuk ke penelusuran lebih lanjut.

3. Telusuri Transaksi yang Masih dalam Proses

Apabila setelah pencatatan masih terdapat selisih, kamu perlu menelusuri transaksi yang statusnya belum selesai atau belum tercatat di salah satu pihak.

Contohnya:

Setoran yang sudah dicatat perusahaan tetapi belum diproses bank (deposit in transit),

Cek yang sudah diterbitkan tetapi belum dicairkan penerima (outstanding check).


Kedua kondisi ini membuat saldo buku dan saldo bank tampak berbeda meskipun sebenarnya transaksinya sah.

Pada tahap ini, kamu bisa memeriksa bukti transaksi, menghubungi pihak bank, atau menanyakan kepada bagian terkait di internal perusahaan. Tujuannya adalah memastikan apakah transaksi memang masih berjalan atau justru terjadi kesalahan pencatatan.

4. Buat Lembar Kerja Rekonsiliasi dan Hitung Selisih

Setelah seluruh data terkumpul, susun lembar kerja rekonsiliasi. Lembar ini berfungsi sebagai alat bantu untuk menghitung dan merangkum seluruh penyesuaian.

Biasanya berisi:

Saldo awal bank,

Penambahan atau pengurangan dari transaksi yang belum tercatat,

Saldo akhir setelah penyesuaian,

Perbandingan dengan saldo buku kas.


Melalui perhitungan ini, kamu dapat melihat dengan jelas dari mana asal selisih muncul. Jika hasil akhirnya sudah sama, berarti rekonsiliasi berhasil dilakukan.

Tahap ini menuntut ketelitian tinggi karena satu angka yang keliru dapat menyebabkan perbedaan yang besar.

5. Lakukan Penelusuran Lanjutan dan Pengecekan Ulang

Sebagai langkah terakhir, lakukan pengecekan ulang terhadap seluruh data, terutama jika masih terdapat selisih yang mencurigakan.

Periksa juga, apakah ada kemungkinan salah input nominal, pencatatan ganda, transaksi terlewat, atau jurnal pembalik yang belum dibuat.

Jangan terburu-buru melakukan penyesuaian sebelum yakin seluruh data sudah benar. Pemeriksaan ulang ini penting untuk menjaga akurasi laporan keuangan sekaligus mencegah kesalahan berulang di periode berikutnya.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: