Prabowo Instruksikan Kabinet Antisipasi Dampak El Nino, 6 Provinsi Jadi Prioritas

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 28 Juli 2026 | 21:35 WIB
Presiden Prabowo Subianto gelar rapat terbatas dengan jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (BeritaNasional/BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto gelar rapat terbatas dengan jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (BeritaNasional/BPMI Setpres)

BeritaNasional.com - Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026), Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran Kabinet Merah Putih untuk mengantisipasi potensi dampak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya akan memperkuat dukungan melalui operasi modifikasi cuaca untuk mengisi waduk dan mengurangi risiko kebakaran hutan serta lahan.

“Jadi ada dua, yaitu terkait dengan ketersediaan air melalui waduk-waduk, pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan sebagainya," kata Faisal usai ratas.

"Juga dengan, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca. Tadi diperkuat banyak tentang modifikasi cuaca,” tambah dia.

Faisal berujar, terdapat enam provinsi yang menjadi prioritas operasi modifikasi cuaca, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. 

Operasi tersebut dilakukan secara berkala untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar.

“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi,” terangnya.

Selain mencegah kebakaran hutan dan lahan, operasi modifikasi cuaca juga akan dimanfaatkan untuk membantu pengisian air di sejumlah waduk di Indonesia. 

Upaya itu dilakukan melalui kerja sama BMKG dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta pihak swasta.

“Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca, bekerja sama dengan BNPB, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk," terangnya.

"Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih,” sambung Faisal.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengedepankan pencegahan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan, bukan hanya penanganan setelah bencana terjadi.

“Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan waterbombing, kemudian dengan pemadam yang disemprot, dan sebagainya. Tapi ketika permukaan air tanahnya sudah menurun, itu dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan kubik air, dan kemudian dapat menjenuhkan daerah tersebut. Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015,” pungkasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: