Harga Emas Melonjak Akibat Faktor Geopolitik

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Sabtu, 17 Mei 2025 | 01:00 WIB
Harga emas naik (Foto/Freepik)
Harga emas naik (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Kenaikan harga emas dunia yang kini mencapai kisaran 3.200 dolar AS per troy ounce (setara 31,1 gram) selain dari permintaan yang meningkat, lebih utama lagi karena faktor geopolitik global yang ditandai konflik di beberapa wilayah.

“Kita bisa melihat ketika konflik antara Rusia dengan Ukraina, kemudian Israel dengan Hamas pada Oktober 2023, Israel dengan Hizbullah pada Juli 2024. Ketika eskalasi konfliknya meningkat, harga emas ikut menguat signifikan. Kemudian baru-baru ini saat ada kebijakan resiprokal Trump dan terbaru konflik Pakistan dengan India juga membuat harga emas menguat,” kata Pakar Pertambangan sekaligus Dirut perusahaan tambang emas nasional PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), Edi Permadi.

Pandangan tersebut, lanjut Edi Permadi, juga ditegaskan dalam Gold Return Attribution Model (GRAM) yang menyebutkan risiko geopolitik memberi kontribusi 5,15 persen dari kenaikan harga emas tahun ini. GRAM merupakan model yang dikembangkan oleh World Gold Council untuk memahami faktor-faktor yang mendorong return-nya harga emas.

Edi melihat bahwa harga emas ke depan masih dalam tren yang menguat. Mengutip analisis JP Morgan, Edi menyebutkan, harga emas tahun depan bisa menciptakan rekor baru menuju kisaran 4.000 dolar AS per ttroy ounce.

“Apalagi pemerintah Amerika Serikat baru baru ini memutuskan untuk menempatkan emas sebagai Aset Tier I. Ini akan membuat permintaan emas khusus dari perbankan akan meningkat," kata Edi yang juga Tenaga Profesional (Taprof) Bidang Sumber Kekayaan Alam (SKA) Lemhanas.

Di tengah situasi geopolitik dan ekonomi global yang tidak menentu, emas menjadi salah satu komoditi yang paling diburu. Permintaan yang meningkat namun tidak diimbangi dengan pasokan membuat stok di pasar menipis. Di sinilah hukum pasar berlaku, harga emas terus dalam tren menguat.

"Jika dilihat dalam beberapa tahun terakhir, antara permintaan dan pasokan tidak seimbang sehingga harga pun menguat,” ujarnya.

Sementara untuk Indonesia, menurut Edi, satu langkah positif yang semakin membuat emas makin kuat adalah kebijakan pembentukan Bullion Bank dari pemerintah. Kemudian juga produksi emas nasional yang akan meningkat signifikan yang bersumber dari dua smelter milik PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional,Tbk (AMMAN).

“Kondisi ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha maupun pemerintah untuk meraih keuntungan atau meningkatkan pendapatan negara,” kata Edi.

Namun ia mengingatkan bahwa kondisi pasar yang positif ini juga harus membuat perusahaan lebih memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) dan juga kegiatan eksplorasi.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: