Akibat Omongan PM Jepang, Pertemuan Menteri China-Jepang-Korsel Ditunda
BeritaNasional.com - Pertemuan tiga menteri kebudayaan dari China, Jepang, dan Korea Selatan ditunda karena meningkatnya ketegangan politik menyusul pernyataan Tokyo terkait Taiwan.
“Pernyataan keliru pemimpin Jepang tentang Taiwan melukai perasaan rakyat China dan merusak atmosfer kerja sama trilateral. Akibatnya, situasi belum memungkinkan untuk mengadakan pertemuan tersebut,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.
PM Jepang Sanae Takaichi mengatakan, penggunaan kekuatan oleh China terhadap Taiwan dapat mengancam kelangsungan hidup Jepang, dan ia menolak menarik ucapannya.
Pertemuan tingkat menteri yang direncanakan berlangsung di Makau pada 23–25 November 2025 itu resmi ditunda setelah China menyampaikan pemberitahuan kepada Korea Selatan.
Sejak 2007, ketiga negara secara bergiliran menjadi tuan rumah pertemuan tahunan sebagai forum untuk memperkuat pertukaran budaya, dengan format tatap muka.
Tahun lalu, pertemuan digelar di Kyoto, Jepang, yang menghasilkan “Deklarasi Kyoto” dan penetapan Anseong, Makau, dan Kamakura sebagai Kota Budaya Asia Timur 2025.
“Pernyataan pemimpin Jepang menimbulkan tantangan bagi tatanan internasional pascaperang,” kata Mao, menegaskan posisi Beijing terhadap isu sensitif tersebut.
Ia menyinggung sejarah pendudukan Jepang atas Taiwan selama setengah abad. Menurutnya, hal itu juga menyebabkan penderitaan besar bagi rakyat pulau itu.
"Tahun ini menandai peringatan 80 tahun pemulihan Taiwan oleh China. Jepang tidak boleh lupa bahwa Taiwan adalah milik China, Taiwan bukan urusan Jepang. Jika Jepang membuat masalah dengan Taiwan, China tidak akan diam saja," ujarnya.
Mao menekankan bahwa Jepang seharusnya mematuhi prinsip Satu China serta empat dokumen politik bilateral, bukan mempertahankan posisi ambigu mengenai Taiwan.
“Jepang harus mencabut pernyataan keliru itu dan mengambil langkah yang menunjukkan penghormatan terhadap komitmennya kepada China,” tambahnya.
Sebagai respons, China kembali menutup impor hasil laut Jepang, yang baru dibuka pada 5 November setelah penutupan sejak 2023 terkait pembuangan air olahan Fukushima.
Larangan itu memukul industri makanan laut Jepang, terutama produsen kerang dan teripang, mengingat China merupakan pasar ekspor terbesar bagi sektor tersebut.
Sumber: Antara
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







