Profil Gus Yahya: Dari Mahasiswa UGM, Jubir Presiden, hingga Ketum PBNU

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 27 November 2025 | 16:20 WIB
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dinyatakan tidak lagi berstatus sebagai ketua umum PBNU terhitung sejak 26 November 2025. 

Informasi tersebut tertuang dalam surat edaran PBNU bernomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 sebagai tindak lanjut Rapat Harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025.

Menanggapi kabar tersebut, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa surat itu tidak sah karena masih memiliki tanda air bertuliskan draf. 

“Surat itu adalah surat yang tidak sah. Karena seperti bisa dilihat, masih ada watermark dengan tulisan draf, maka itu berarti tidak sah,” ujarnya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

Di tengah polemik yang berkembang, sosok Gus Yahya kembali menjadi perhatian publik.

Profil Lengkap Gus Yahya

Latar Belakang Keluarga

KH Yahya Cholil Staquf lahir di Rembang pada 15 Februari 1966 dari keluarga besar Nahdlatul Ulama yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia pesantren dan organisasi keagamaan. Ayahnya, KH Muhammad Cholil Bisri, merupakan tokoh terpandang di NU, sementara adiknya, KH Yaqut Cholil Qoumas, kini menjabat sebagai Menteri Agama RI.

Dari garis leluhur, Gus Yahya merupakan cucu dari KH Bisri Mustofa, ulama besar penyusun tafsir klasik Al-Ibris, dan keponakan KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Mustasyar PBNU yang pernah menjabat Rais Aam PBNU pada 2014–2015. Lingkungan keluarga yang sangat religius ini membentuk tradisi keilmuan Gus Yahya sejak masa kanak-kanak.

Pendidikan

Menghabiskan masa kecil di lingkungan pesantren, Gus Yahya menekuni pendidikan agama secara intensif. Ia menimba ilmu di Pesantren Madrasah Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan KH Ali Maksum.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia melanjutkan studinya ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), untuk mendalami ilmu sosiologi.

Tidak hanya itu, ia juga pernah bermukim selama satu tahun di Mekah guna memperdalam ilmu agama dan memperluas perspektif keislamannya.

Perjalanan Organisasi

Karier organisasi Gus Yahya berlangsung panjang dan bertahap. Ia pernah dipercaya sebagai Katib Aam PBNU untuk masa khidmat 2015–2020.

Kemudian, melalui Sidang Pleno V yang digelar di Universitas Lampung pada 24 Desember 2021, Gus Yahya resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2021–2026. Pengangkatannya menjadi tonggak penting dalam regenerasi kepemimpinan PBNU.

Kiprah di Pemerintahan

Selain aktif di lingkungan NU, Gus Yahya juga memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan. Pada era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999–2001, ia dipercaya sebagai Juru Bicara Presiden.

Setelah itu, kiprahnya kembali mendapat pengakuan ketika Presiden Joko Widodo melantik dirinya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei 2018, posisi yang menguatkan peran strategisnya dalam memberikan masukan kepada pemerintah.

Peran Internasional dan Advokasi Perdamaian

Di panggung global, Gus Yahya dikenal luas sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan perdamaian dunia. Ia mendirikan Bayt ar-Rahmah di Amerika Serikat, sebuah lembaga internasional yang mempromosikan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Selain itu, ia kerap hadir dalam berbagai forum internasional untuk mengusung pesan toleransi dan dialog antaragama, salah satunya sebagai pembicara dalam forum yang diselenggarakan American Jewish Committee (AJC) di Yerusalem. Kiprahnya menjadikannya salah satu ulama Indonesia yang memiliki pengaruh di kancah diplomasi internasional.

(Rep/Sisilia)sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: