Apa Itu GEMAR? Simak Penjelasan dan Fakta Tingginya Angka Fatherless di Baliknya
BeritaNasional.com - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) resmi meluncurkan Gemar atau Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah. Program ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kemendukbangga/BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 yang ditandatangani Kepala BKKBN Wihaji pada 1 Desember 2025.
Jika biasanya segala urusan anak termasuk mengambil rapor anak dilakukan oleh ibu. Gerakan ini menjadi perhatian publik karena menyasar langsung perubahan pola pengasuhan di Indonesia, khususnya peran ayah dalam pendidikan anak. Lantas, apa itu GEMAR, apa tujuan utama dari gerakan ini dan fakta di balik kebijakan ini? Simak penjelasannya yang dihimpun BeritaNasional, Jumat (19/12/2025).
Apa Itu GEMAR?
GEMAR merupakan singkatan dari Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang mendorong keterlibatan ayah secara aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak sejak usia dini.
Melalui GEMAR, BKKBN mengajak para ayah untuk hadir langsung ke sekolah saat pembagian rapor, mulai dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah. Kehadiran ayah dinilai memiliki dampak psikologis dan sosial yang kuat bagi perkembangan anak.
Tujuan Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah
BKKBN menegaskan bahwa GEMAR bukan sekadar simbolis, tetapi memiliki tujuan jangka panjang yang strategis, antara lain:
1. Memperkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan
Selama ini, peran pengasuhan dan pendidikan anak kerap dibebankan pada ibu. GEMAR hadir untuk menyeimbangkan peran tersebut agar lebih kolaboratif dan setara.
2. Membangun Kedekatan Emosional Ayah dan Anak
Kehadiran ayah di momen penting seperti pengambilan rapor mampu meningkatkan rasa aman, percaya diri, dan kenyamanan anak dalam proses belajar.
3. Mendorong Prestasi dan Kesehatan Mental Anak
Berbagai studi menunjukkan bahwa anak dengan keterlibatan ayah yang aktif cenderung memiliki kesiapan belajar lebih baik dan kestabilan emosi yang lebih kuat.
4. Investasi Sosial Menuju Generasi Emas
GEMAR sejalan dengan mandat Kemendukbangga/BKKBN dalam membangun keluarga berkualitas dan mencetak generasi emas Indonesia di masa depan.
Isi Lengkap Surat Edaran Gerakan Ayah Mengambil Rapor
Dalam Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025, BKKBN menyampaikan beberapa poin penting, di antaranya:
- Seluruh ayah yang memiliki anak usia sekolah diimbau mengambil rapor anak ke sekolah pada waktu penerimaan rapor akhir semester.
- Anak usia sekolah mencakup jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
- Pelaksanaan GEMAR dimulai Desember 2025, menyesuaikan jadwal pengambilan rapor di masing-masing sekolah.
- Ayah yang mengikuti gerakan ini diberikan dispensasi keterlambatan sesuai kebijakan instansi atau kantor tempat bekerja.
- Sebagai bentuk apresiasi, BKKBN melalui program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) akan memberikan penghargaan kepada 10 ayah terpilih.
Cara Mengikuti Apresiasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)
Bagi ayah yang ingin mengikuti program apresiasi, BKKBN mengimbau untuk:
- Mengunggah foto dan/atau video saat mengambil rapor anak ke sekolah
- Menggunakan tagar #GATI dan #sekolahbersamaayah
- Menandai akun Instagram @kemendukbangga_bkkbn, @dithanrembkkon, dan/atau @gatikemendukbangga
Langkah ini sekaligus menjadi kampanye digital untuk menginspirasi ayah lainnya di seluruh Indonesia.
Fakta Tingginya Angka Fatherless di Balik GEMAR
BKKBN mengungkap fakta penting terkait tingginya angka fatherless atau hilangnya peran ayah dalam keluarga di Indonesia. Berdasarkan Pendataan Keluarga Tahun 2025, kondisi ini ternyata lebih banyak terjadi pada keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja.
Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan, temuan tersebut saat memaparkan hasil pendataan keluarga yang dirilis di Jakarta, Rabu (26/11/2025). Data ini menjadi alarm serius bagi penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak.
Hasil pendataan keluarga 2025 menunjukkan perbedaan mencolok antara keluarga dengan kepala keluarga bekerja dan tidak bekerja. Sebanyak 63 persen anak yatim atau kehilangan peran ayah berasal dari keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan keluarga dengan kepala keluarga bekerja yang tercatat sebesar 24,1 persen.
“Sekitar satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia atau 25,8 persen mengalami yatim. Hilangnya peran ayah secara ekonomi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko tersebut,” terang Wihaji.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peran ayah tidak hanya penting secara emosional, tetapi juga sangat krusial dari sisi ekonomi dan keberlanjutan keluarga.
Pendataan keluarga 2025 juga memetakan wilayah dengan proporsi anak yatim piatu tertinggi di Indonesia. Wilayah Papua masih mendominasi daftar tersebut.
Provinsi dengan angka yatim piatu tertinggi adalah:
- Papua Pegunungan: 50,2 persen
- Papua Selatan: 40,1 persen
- Papua Tengah: 39,4 persen
- Papua: 30,4 persen.
Selain Papua, beberapa provinsi lain juga mencatat angka yang cukup tinggi, antara lain:
- Sumatera Utara: 30,4 persen
- Jawa Barat: 29,5 persen
- Sumatera Barat: 28,5 persen
- Sulawesi Selatan: 28,1 persen.
Sementara itu, Bali menjadi provinsi dengan proporsi yatim piatu terendah, yakni 15,1 persen, menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarwilayah.
Fatherless Lebih Banyak Terjadi di Pedesaan
Temuan menarik lainnya adalah angka fatherless di pedesaan lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Berdasarkan data, sekitar 26,3 persen anak di pedesaan mengalami kehilangan peran ayah, sementara di perkotaan angkanya 25,4 persen.
Menurut Wihaji, salah satu penyebab utama kondisi ini adalah fenomena ayah merantau untuk bekerja dalam waktu lama.
“Bapaknya rata-rata mencari rezeki di luar kota. Berdasarkan data tadi memang lebih banyak di pedesaan karena orang tua, khususnya bapak, bekerja di perantauan,” jelasnya.
Kondisi ini membuat kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari anak menjadi terbatas, meskipun secara fisik masih hidup dan bekerja.
Selain faktor ekonomi dan migrasi kerja, tingginya angka fatherless juga dipengaruhi oleh norma budaya yang masih menempatkan ayah semata sebagai pencari nafkah. Peran pengasuhan sering kali sepenuhnya diserahkan kepada ibu.
Rendahnya literasi pengasuhan ayah, keterbatasan akses layanan konseling keluarga, serta sulitnya menjangkau program pendampingan di desa dan kelurahan turut memperparah kondisi ini. Akibatnya, anak tetap merasakan kesepian dan kehilangan figur ayah, meskipun ayah secara fisik masih ada.
Kemendukbangga menegaskan bahwa literasi pengasuhan ayah dan penguatan layanan konseling keluarga di tingkat desa dan kelurahan harus menjadi prioritas. Upaya ini penting untuk membangun kesadaran bahwa peran ayah tidak berhenti pada pemenuhan ekonomi semata.
Dengan keterlibatan ayah yang lebih aktif, diharapkan angka fatherless di Indonesia dapat ditekan dan kualitas tumbuh kembang anak meningkat secara berkelanjutan.
Data Pendataan Keluarga 2025 mengonfirmasi bahwa angka fatherless di Indonesia masih tinggi, terutama pada keluarga dengan kepala keluarga tidak bekerja dan di wilayah pedesaan. Faktor ekonomi, budaya, serta rendahnya literasi pengasuhan ayah menjadi tantangan utama.
Melalui penguatan peran ayah, pemanfaatan teknologi, dan layanan pendampingan keluarga, pemerintah berharap dapat menghadirkan sosok ayah yang tetap hadir, meski terpisah jarak, demi masa depan anak Indonesia yang lebih sehat dan berdaya.
Dengan GEMAR, BKKBN mengajak seluruh ayah Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif, menjadi teladan, sekaligus fondasi kuat bagi lahirnya generasi unggul dan berkarakter.
(Rep/Nissa)
PERISTIWA | 21 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







