Mengenal Sejarah Malam Natal, Ini Alasan Dirayakan sejak 24 Desember

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 23 Desember 2025 | 21:17 WIB
Umat Katolik melaksanakan Misa Malam Natal di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (24/12/2024). (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Umat Katolik melaksanakan Misa Malam Natal di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (24/12/2024). (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Malam Natal menjadi waktu yang penuh makna bagi umat Kristiani karena menandai dimulainya perayaan kelahiran Yesus Kristus.

Diperingati setiap 24 Desember, malam ini bukan sekadar pengantar Hari Natal, tetapi juga memiliki nilai religius dan historis yang mendalam serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah Malam Natal

Tradisi perayaan Malam Natal berawal dari penanggalan liturgi kuno yang menganggap satu hari dimulai sejak matahari terbenam.

Pandangan ini dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan dijelaskan dalam Kitab Kejadian, yang menggambarkan bahwa pergantian hari terjadi dari petang menuju pagi. Karena itulah, perayaan Natal dimulai sejak malam sebelumnya.

Dalam Gereja Ritus Timur, satu hari liturgi dihitung sejak matahari terbenam hingga terbenam kembali keesokan harinya.

Sementara itu, Gereja Barat, termasuk Gereja Katolik Roma, kemudian menetapkan awal hari liturgi pada tengah malam. Meski demikian, kebiasaan merayakan Natal sejak Malam Natal tetap dipertahankan.

Keyakinan bahwa Yesus dilahirkan pada malam hari, sebagaimana diceritakan dalam Injil Lukas, melatarbelakangi tradisi Misa Tengah Malam.

Hal ini tecermin dalam berbagai sebutan Malam Natal di sejumlah negara, seperti Malam Kudus, Heilige Nacht di Jerman, dan Nochebuena di Spanyol, yang semuanya menggambarkan suasana suci dan khidmat.

Tradisi Perayaan Malam Natal

Perayaan Malam Natal dijalankan dengan cara yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Gereja Katolik Roma dan Anglikan umumnya menggelar Misa Tengah Malam yang dimulai menjelang pergantian hari sebagai simbol peringatan kelahiran Yesus.

Namun, dalam perkembangannya, sebagian gereja memilih mengadakan misa lebih awal pada malam hari agar dapat diikuti lebih banyak jemaat.

Di negara-negara berbahasa Spanyol, ibadah ini dikenal sebagai Misa de Gallo. Sementara itu, umat Kristiani di Filipina memiliki tradisi Simbang Gabi, yakni rangkaian misa yang dilaksanakan selama sembilan hari menjelang Natal dan berpuncak pada 24 Desember.

Di Skotlandia, Malam Natal dirayakan melalui ibadah Watchnight , yang berlangsung tepat menjelang tengah malam dan diisi dengan nyanyian lagu-lagu Natal.

Gereja Lutheran di Jerman dan kawasan Skandinavia merayakannya dengan drama kelahiran Yesus, alunan musik organ, serta paduan suara, termasuk tradisi menyanyikan lagu Quempas yang masih lestari di wilayah Jerman tengah dan timur.

Sementara itu, Gereja Metodis merayakan Malam Natal dengan pendekatan yang lebih sederhana dan kekeluargaan, seperti Perjamuan Kudus atau ibadah lilin yang ditutup dengan lagu “Malam Kudus”.

Di Britania Raya, Malam Natal juga ditandai dengan siaran tahunan Nine Lessons and Carols dari King’s College, Cambridge, yang telah menjadi simbol dimulainya perayaan Natal dan disiarkan ke berbagai negara.

Dengan beragam sejarah dan tradisi yang menyertainya, Malam Natal menjadi momen refleksi bagi umat Kristiani untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus dengan hati yang penuh syukur dan pengharapan. 

(Rep/Shafira)sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: