Kardinal Suharyo: Pertobatan Gaya Hidup yang Dilandaskan Iman
BeritaNasional.com - Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pertobatan merupakan arah hidup utama yang harus dijalani umat Kristiani secara konsisten, bukan sekadar dimaknai sebagai praktik keagamaan yang bersifat sementara.
Pesan tersebut disampaikannya dalam perayaan Natal di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025). Dalam homilinya, Kardinal Suharyo mengingatkan bahwa pertobatan adalah sikap batin yang perlu dihayati setiap hari sebagai bagian dari perjalanan iman.
Menurutnya, dalam tradisi Katolik, orientasi hidup manusia telah memiliki tujuan yang jelas dan tidak terlepas dari relasi dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
“Pertobatan itu adalah gaya hidup yang dilandaskan iman,” ujar Kardinal Suharyo.
Ia kemudian menjelaskan pandangan iman Katolik tentang hakikat manusia yang diciptakan dengan tujuan luhur, yakni untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah.
“Maksudnya begini, menurut konsep Kristiani, konsep Katolik, manusia itu diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah,” tegasnya.
Kardinal Suharyo juga menyoroti keterkaitan erat antara ibadah dan sikap hidup nyata. Menurutnya, pemuliaan kepada Allah tidak hanya terwujud melalui liturgi formal, tetapi juga melalui berbagai bentuk devosi pribadi.
“Memuliakan Allah itu bentuknya antara lain dalam berbagai macam ibadah. Ada ibadah resmi, ada yang tidak resmi,” tutur Kardinal Suharyo.
Ia mencontohkan misa, sakramen, ziarah, serta doa rosario sebagai sarana yang membantu umat memelihara relasi dengan Allah. Namun, ia mengingatkan bahwa makna ibadah tidak boleh berhenti pada aktivitas ritual semata.
“Tetapi memuliakan Allah itu mesti diterjemahkan secara konkret, yaitu di dalam bakti kepada Allah,” katanya.
Bakti tersebut, lanjutnya, harus tercermin dalam relasi dengan sesama agar setiap manusia dapat mengalami kesejahteraan yang setara sebagai ciptaan Tuhan.
Dalam refleksi pribadinya, Kardinal Suharyo mengakui bahwa kecenderungan memuliakan diri sendiri kerap muncul dalam kehidupan manusia.
“Saya secara jujur mengatakan, saya seringkali tidak memuliakan Allah. Saya tidak jarang jatuh pada yang namanya memuliakan diri sendiri,” ujarnya.
Ia menilai sikap tersebut juga dialami banyak orang, sehingga diperlukan kesadaran untuk terus melakukan koreksi diri agar kembali pada tujuan hidup yang sejati.
“Ketika orang tidak memuliakan Allah lagi, hal yang merupakan tujuan dari ciptaan, dia harus membelokkan kembali, meluruskan kembali jalannya. Itulah pertobatan, rohani, batin, karena itu urusan saya dengan Allah,” ungkapnya.
Menutup pesannya, Kardinal Suharyo menekankan bahwa bakti kepada Allah harus terwujud dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika manusia mesti berbakti kepada Allah, baktinya itu kan harus konkret ya,” tutupnya.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu






