Serangan Bom dan Penangkapan Maduro, Berbagai Negara Kecam AS dan Ingatkan soal Piagam PBB

Oleh: Kiswondari
Minggu, 04 Januari 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi penyerangan AS terhadap Venezuela. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Ilustrasi penyerangan AS terhadap Venezuela. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui akun Truth Social, mengakui telah melancarkan serangan berskala besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya pada Sabtu (3/1/2026). Berdasarkan laporan Al Jazeera, atas aksi brutal Trump itu, sejumlah negara di Amerika Latin, Eropa dan Asia termasuk Indonesia turut angka suara dan mengecam tindakan Trump.

Presiden Kolombia Gustavo Petro pun memperingatkan dunia akan serangan AS ini. Ia mengingatkan kembali soal perdamaian dan penghormatan terhadap hukum internasional.

"Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka telah menyerang Venezuela," tulis Presiden Kolombia Gustavo Petro melalui media sosial X.

"Republik Kolombia menegaskan kembali keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan kehidupan dan martabat manusia harus diutamakan daripada segala bentuk konfrontasi bersenjata," tulis Petro Petro.

Dengan tegas Petro mengatakan Kolombia menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin dan akan mengerahkan pasukan militernya ke perbatasan Venezuela.

Senada, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengeluarkan kecaman keras di media sosial, menuduh AS melakukan serangan kriminal terhadap Venezuela dan menyerukan tanggapan internasional yang mendesak.

Dalam unggahannya di X, Diaz-Canel mengatakan apa yang disebut "zona perdamaian" dan Venezuela sedang diserang secara brutal, seraya menggambarkan tindakan AS sebagai terorisme negara yang ditujukan tidak hanya kepada rakyat Venezuela tetapi juga kepada "Amerika Kita" (Amerika Latin) secara lebih luas.

Ia lantas mengakhiri pernyataan tersebut dengan slogan revolusioner: "Tanah Air atau Kematian, Kita Akan Menang".

Presiden Chili Gabriel Boric Font melalui akun X, menyatakan keprihatinan dan kecaman pemerintahannya terhadap tindakan militer AS di Venezuela.

“Kami menyerukan pencarian solusi damai untuk krisis serius yang melanda negara ini,” tulis Presiden Chili.

“Chile menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip-prinsip dasar Hukum Internasional, seperti larangan penggunaan kekerasan, non-intervensi, penyelesaian damai sengketa internasional, dan integritas teritorial negara. Krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog dan dukungan multilateralisme, dan bukan melalui kekerasan atau campur tangan asing,” tegasnya.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan bahwa Meksiko mengutuk intervensi militer di Venezuela melalui platform X.

Ia juga menyertakan dalam unggahannya sebuah pasal dalam Piagam PBB yang menyatakan: “Para Anggota Organisasi, dalam hubungan internasional mereka, harus menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun, atau dengan cara lain yang tidak sesuai dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa”.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva juga mengutuk aksi brutal AS dan penangkapan Maduro sebagai tindakan yang melampaui batas yang tidak dapat diterima.

“Menyerang negara-negara, dengan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan, di mana hukum yang terkuat mengalahkan multilateralisme,” tulis Lula di X.

Ia menambahkan, serangan AS mengingatkan pada momen-momen terburuk campur tangan dalam politik Amerika Latin, mengancam perdamaian di seluruh wilayah.

“Komunitas internasional, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, perlu menanggapi episode ini dengan tegas,” desaknya.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga mengutuk aksi brutal AS terhadap Venezuela dan menguatkan Venezuela untuk berdiri teguh melawan musuh.

“Yang penting adalah ketika seseorang menyadari bahwa musuh ingin memaksakan sesuatu pada pemerintah atau bangsanya dengan klaim palsu, mereka harus berdiri teguh melawan musuh itu,” tulis Khamenei dalam akun X-nya.

“Kita tidak akan menyerah kepada mereka. Dengan mengandalkan Tuhan dan keyakinan akan dukungan rakyat, kita akan membuat musuh bertekuk lutut,” tambahnya.

Moskow pun sangat prihatin dan mengutuk tindakan agresi bersenjata terhadap Venezuela yang dilakukan oleh AS.

“Dalam situasi saat ini, penting… untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada pencarian jalan keluar dari situasi ini melalui dialog,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.

Rusia menegaskan, Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa intervensi militer yang merusak dari luar, seraya menegaskan dukungannya terhadap kebijakan kepemimpinan Venezuela.

“Kami menegaskan kembali solidaritas kami dengan rakyat Venezuela dan dukungan kami terhadap kebijakan kepemimpinan mereka dalam membela kepentingan nasional dan kedaulatan negara,” tambahnya.

Rusia juga sangat prihatin atas penangkapan Maduro dan istrinya, dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara merdeka yang tidak dapat diterima.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan negaranya tidak terlibat dalam serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan ingin berbicara dengan Trump dan mencari tahu fakta lengkap tentang apa yang telah terjadi. Starmer pun mengingatkan tentang menjunjung tinggi hukum internasional.

“Saya ingin memastikan fakta-fakta terlebih dahulu. Saya ingin berbicara dengan Presiden Trump. Saya ingin berbicara dengan sekutu. Saya dapat menegaskan dengan jelas bahwa kami tidak terlibat… dan saya selalu mengatakan dan percaya bahwa kita semua harus menjunjung tinggi hukum internasional,” katanya dalam sebuah pernyataan kepada stasiun televisi Inggris.

Kemudian, Spanyol melalui Kementerian Luar Negerinya menyerukan de-eskalasi, moderasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional di Venezuela. Mereka juga menawarkan diri sebagai negosiator untuk membantu menemukan solusi damai di Venezuela.

Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita AFP, Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan bahwa mereka sangat prihatin dan tengah memantau kondisi yang terjadi di Venezuela.

"Memantau situasi di Venezuela dengan sangat cermat dan mengikuti laporan terbaru dengan sangat prihatin," kata Kemlu Jerman.

Kemlu Jerman juga menjalin kontak erat dengan kedutaan di Caracas, dan tim krisis pemerintah sedang mengadakan pertemuan dan berkoordinasi erat dengan mitranya.

Indonesia Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menyampaikan tengah memantau perkembangan di Venezuela untuk memastikan keselamatan WNI. Indonesia pun mendorong adanya penyelesaian dengan dialog dan memprioritaskan perlindungan terhadap warga sipil.

“Indonesia juga menyerukan kepada semua pihak terkait untuk memprioritaskan penyelesaian damai melalui de-eskalasi dan dialog, sambil memprioritaskan perlindungan warga sipil.

Indonesia juga menekankan pentingnya bagi AS untuk menghormati hukum internasional dan Piagam PBB.

“Indonesia menekankan pentingnya menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam PBB,” tegasnya.

sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: