Ancaman Ekstremisme Bayangi İndonesia, Densus Polri Tangani 70 Anak Terpapar Usia 11-18 Tahu
BeritaNasional.com - Penyebaran paham ekstremisme belakangan ini tengah menjadi perhatian serius pemerintah. Paham tersebut disebut kerap menyasar anak melalui berbagai konten kekerasan yang ada di ruang digital. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono mengatakan upaya deteksi dini yang saat ini tengah digencarkan pemerintah melibatkan berbagai stakeholder terkait.
“Bahwa telah terjadi fenomena di ruang digital ya, tentang terpaparnya anak-anak dengan konten-konten kekerasan,” kata Eddy saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Meski begitu, Eddy sempat menjelaskan ekstrimisme yang menjangkit anak-anak berbeda dengan radikalisasi yang sebelumnya sempat ditangani Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri.
“Karena anak-anak ini terpapar konten kekerasan di ruang digital khususnya di grup True Crime Community (TCC) ya. Anak-anak ini memang kalau enggak ditangani ya, jadi kalau dalam fase sebelum terorisme, itu akan masuk kepada ekstremisme, kemudian radikalisme, kemudian terorisme,” jelasnya.
“Nah, ini adalah tahap fase awal. Sejak dini kalau tidak ditangani dengan serius dan tidak sinergi dan kolaborasi kementerian/lembaga, ini akan menjadi ancaman ke depannya, khususnya ancaman terorisme,” sambung dia.
Tangani 70 Anak Terpapar
Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana menyebut sejak akhir 2025 sampai saat ini telah menangani 70 anak yang terpapar ekstrimisme.
“Mabes Polri beserta jajaran serempak untuk bersama-sama dengan kementerian/lembaga terkait segera mengintervensi anak yang lain ya, daripada 70 orang ini,” kata Mayndra.
Puluhan anak ini berhasil terdeteksi setelah dilakukan pendalaman lebih lanjut dengan berbagai alat bukti yang ditemukan serta keyakinan seperti paham Neo-Nazi, White Supremacy, dan lain-lain.
"Ada 70 anak di 19 provinsi (yang terindentifikasi sebagai member grup TCC). Di mana provinsi yang terbanyak yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang, setelah itu menyebar di beberapa daerah," tuturnya.
Mayndra mengatakan untuk anak-anak yang masih kategori pelajar tersebut saat ini telah dilakukan asesmen, mapping, konseling, serta melakukan kerjasama dengan berbagai stakeholders untuk menangani masalah ini.
“Ada pun sebaran usia daripada 70 anak ini, rentang dari 11 sampai dengan 18 tahun dan didominasi oleh umur 15 tahun. Jadi transisi antara SMP ke SMA,” bebernya.
Mayndra menyebut rata-rata faktor dari para anak akhirnya terpapar paham ekstrimisme hingga bergabung ke komunitas kekerasan, karena masalah dalam diri maupun lingkungan sosial.
Seperti korban perundungan di lingkungan masyarakat maupun sekolah, anak dari perceraian orang tua (broken home), ketidakharmonisan dalam keluarga, kurang perhatian, sampai kerap menyaksikan kekerasan di lingkungan sekitar.
“Jadi di sini mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut,” ungkapnya.
Meski begitu, para anak yang terpapar ekstrimisme mayoritas tidak menganut paham kekerasan secara total. Mereka rata-rata hanya menjadikan komunikasi di dalam grup itu sebagai inspirasi yang dijadikan rumah kedua.
“Itu yang bisa kami sampaikan dari Densus 88 terkait dengan pengungkapan 70 anak yang tergabung dalam member grup TCC,” tukasnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





