Tambang Longsor di Kongo Timur, Sekitar 200 Orang Tewas
BeritaNasional.com - Bencana kemanusiaan hebat melanda wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Sedikitnya 200 orang dilaporkan tewas setelah tanah longsor memicu runtuhnya sejumlah lubang tambang di lokasi penambangan koltan utama, Rubaya, pada Rabu (28/1/2026).
Dilansir dari CNA pada Sabtu (31/1/2026), otoritas setempat merilis perincian jumlah korban. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Provinsi Kivu Utara disebut menjadi penyebab utama pergeseran tanah yang mengubur para penambang tradisional di bawah tumpukan lumpur.
Lumumba Kambere Muyisa, Juru Bicara otoritas wilayah yang saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23, menyatakan pencarian masih terus berlangsung di tengah kondisi yang sulit.
“Untuk saat ini, ada lebih dari 200 orang tewas, beberapa di antaranya masih terkubur di lumpur dan belum ditemukan,” ungkap Muyisa yang dikutip dari CNA pada Minggu (1/2/2026).
Para korban luka saat ini telah dilarikan ke fasilitas kesehatan di kota Rubaya. Sebagian korban dengan luka serius rencananya akan dievakuasi menggunakan ambulans menuju Goma, kota besar terdekat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi kejadian.
Tragedi ini menyingkap tabir buruknya standar keselamatan di pertambangan tradisional Kongo. Clovis Mafare, seorang mantan penambang, membeberkan bahwa terowongan-terowongan tambang digali secara manual tanpa perawatan atau sistem penyangga yang memadai.
“Orang-orang menggali di mana-mana tanpa kendali. Di satu lubang bisa ada hingga 500 penambang. Karena terowongan digali sejajar, satu titik yang runtuh bisa memicu efek domino ke lubang-lubang lainnya,” jelas Mafare.
Menanggapi insiden ini, Pemerintah Kongo menyatakan solidaritas bagi keluarga korban sekaligus menuduh pemberontak M23 melakukan eksploitasi mineral secara ilegal dan mengabaikan prosedur keselamatan demi keuntungan semata.
Tambang Rubaya bukan sekadar lokasi penambangan biasa. Wilayah ini merupakan jantung produksi koltan dunia, bahan baku utama pembuatan ponsel pintar, komputer, hingga mesin pesawat.
Kongo memasok sekitar 40 persen koltan dunia pada 2023. Lebih dari 15 persen pasokan tantalum global berasal dari tambang ini. PBB melaporkan bahwa kelompok M23 menghasilkan sedikitnya USD800.000 (sekitar Rp12,6 miliar) per bulan dari pajak perdagangan koltan sejak menguasai wilayah ini pada Mei 2024.
Kongo timur telah didera konflik selama puluhan tahun yang melibatkan pemerintah dan berbagai kelompok bersenjata.
Kekerasan ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan lebih dari 7 juta orang terpaksa mengungsi.
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 21 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 21 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






