PBB Sebut Ancaman Senjata Nuklir Kian Tinggi usai Perjanjian AS-Rusia Berakhir

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 19:46 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto/un.org)
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto/un.org)

BeritaNasional.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres melihat adanya peningkatan risiko penggunaan senjata nuklir saat ini menyusul berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada Rabu (4/2/2026). 

Bahkan, Guterres menyebut bahwa risiko penggunaan senjata nuklir saat ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Demikian laporan RIA Novosti melaporkan pada Kamis (5/2/2026).

Guterres pun sangat menyayangkan berakhirnya pencapaian yang telah dibangun selama puluhan tahun, yang disebutnya terjadi "pada waktu terburuk" karena ketegangan geopolitik global sedang memuncak.

"Namun, bahkan di tengah ketidakpastian ini, kita harus mencari harapan. Ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang dan menciptakan sistem pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berkembang pesat," kata Guterres. 

Namun demikian, Guterres menyambut baik penegasan dari AS dan Rusia tentang pemahaman mereka terhadap dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir dan perlunya mencegah kembalinya dunia pada proliferasi nuklir tanpa kendali.

Sebagai informasi, New START adalah perjanjian terakhir tentang pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir jarak jauh yang boleh mereka miliki. Perjanjian itu resmi berlaku pada 5 Februari 2011 dan berakhir pada 4 Februari 2026. 

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: