Perjanjian dengan AS Berakhir, Rusia Siapkan Kebijakan Nuklir Baru

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 13:14 WIB
Ilustrasi senjata nuklir. (Foto/Pixabay)
Ilustrasi senjata nuklir. (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Dengan berakhirnya Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START) pada Rabu (4/2/2026) kemarin, Rusia menyatakan bahwa para pihak yakni, negaranya dan Amerika Serikat (AS) tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris, serta bebas menentukan langkah persenjataan nuklir selanjutnya.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengatakan, pihaknya telah berupaya memperpanjang perjanjian itu, yang inisiatif terakhirnya diajukan pada 22 September 2025.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata terkait dalam perjanjian tersebut tetap diberlakukan setidaknya selama satu tahun setelah masa berlakunya berakhir. Namun, Rusia tak kunjung menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait inisiatif tersebut melalui saluran bilateral.

"Dalam situasi saat ini, kami berasumsi bahwa para pihak dalam New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut, termasuk ketentuan intinya, dan pada prinsipnya bebas memilih langkah selanjutnya," kata Kemlu Rusia, Rabu (4/2/2026).

Rusia menyatakan, akan bertindak "secara bertanggung jawab dan seimbang" dengan mengembangkan kebijakannya di bidang senjata serangan strategis berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kebijakan militer AS dan situasi umum di ranah strategis.

Selain itu, Kemlu Rusia pun menegaskan kesiapan pemerintahnya untuk mengambil langkah militer-teknis yang tegas guna menangkal potensi ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.

"Pada saat yang sama, negara kami tetap terbuka untuk mencari cara-cara politik dan diplomatik guna menstabilkan situasi strategis secara menyeluruh berdasarkan solusi dialog yang setara dan saling menguntungkan, apabila kondisi yang sesuai untuk kerja sama tersebut tercipta," ujarnya.

Sebagai informasi, New START merupakan satu-satunya perjanjian yang tersisa dan mengikat secara hukum untuk membatasi kekuatan nuklir strategis AS dan Rusia. Dengan berakhirnya perjanjian itu memicu kekhawatiran akan dimulainya era baru persaingan nuklir tanpa regulasi.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: