Prabowo Ajak Bangsa Belajar dari Kekuatan Asing: Jangan Lugu, Jangan Naif!

Oleh: Kiswondari
Jumat, 13 Februari 2026 | 13:27 WIB
Presiden Prabowo dalam peresmian 1.179 SPPG dan 18 gudang ketahanan pangan Polri secara serentak di Polsek Palmerah, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (BeritaNasional/YT BPMI Setprse)
Presiden Prabowo dalam peresmian 1.179 SPPG dan 18 gudang ketahanan pangan Polri secara serentak di Polsek Palmerah, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (BeritaNasional/YT BPMI Setprse)

BeritaNasional.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyuruh masyarakat untuk membenci, takut ataupun curiga terhadap orang asing. Ia justru meminta rakyat Indonesia bisa belajar dari kekuatan asing itu, namun tetap harus cerdas, tidak lugu ataupun naif, karena banyak yang tidak suka kalau Indonesia maju. 

"Saya tidak pernah mau ajak saudara untuk benci orang asing, tidak boleh, atau takut atau curiga," kata Prabowo dalam pidatinya saat peresmian 1.179 SPPG dan 18 gudang ketahanan pangan Polri secara serentak di Polsek Palmerah, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

"Kita harus belajar dari kekuatan asing tapi kita jangan, jangan lugu, jangan naif. Tidak ada bangsa lain yang seneng atau yang suka kalau kita maju. Ya," imbuhnya. 

Kepala Negara ini menyampaikan, Indonesia saat ini sudah berada di jalan yang benar karena memasuki awal kebangkitan ekonomi. Ekonomi Indonesia juga sudah sejalan dengan apa yang diajarkan para pendiri bangsa dalam rumusan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45).

"Kita sudah lihat sekarang awal dari kebangkitan kita. Kita berada di jalan yang benar. Ekonomi kita adalah ekonomi pendiri-pendiri bangsa kita. Ekonomi kita adalah ekonomi Undang-Undang Dasar 45," ujarnya. 

Karena itu, kata Prabowo, keberhasilan Indonesia ini akan mengejutkan dan mengecewakan banyak pihak yang tidak suka jika Indonesia maju dan berhasil. 

"Kita berada di jalan yang benar dan kita akan mencapai keberhasilan dan kita akan bikin kejutan dan kita akan mengecewakan semua orang yang ingin Indonesia tetap miskin," tutur Prabowo. 
 sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: