Cerita Djamari Tolak Gelar Datuk Setelah Dilantik jadi Menko Polkam

Oleh: Bachtiarudin Alam
Selasa, 10 Maret 2026 | 14:50 WIB
Menko Polkam Djamari Chaniago saat memberikan kuliah umum Sespim Lemdiklat Polri pada Senin (9/3/2026) kemarin. (BeritaNasional/YT Sespim Polri)
Menko Polkam Djamari Chaniago saat memberikan kuliah umum Sespim Lemdiklat Polri pada Senin (9/3/2026) kemarin. (BeritaNasional/YT Sespim Polri)

BeritaNasional.com - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengungkap sebuah cerita saat dirinya ditawari sebuah gelar kehormatan Datuk Minangkabau setelah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto.

Ceritanya itu diawali dengan pentingnya sebagai seorang pemimpin untuk memiliki sikap yang tegas kepada anak buah. Agar jangan memberikan toleransi kepada anak buah, meskipun pelanggarannya kecil.

“Tidak ada toleransi dalam. Penegakan disiplin tidak ada itu. Sekali seorang pimpinan memberikan toleransi karena pelanggaran kecil, saat itu juga membuka peluang anak buah kita melakukan pelanggaran yang besar,” tegas Djamari saat memberikan kuliah umum Sespim Lemdiklat Polri pada Senin (9/3/2026) kemarin.

Berangkat dari sikap itu, Djamari pun bercerita sebuah pengalaman tentang dirinya yang menolak gelar datuk ketika ditawarkan salah satu pemuka adat Minangkabau sesaat setelah dilantik menjadi Menko Polkam.  

"Begitu saya jadi Menko Polkam, datanglah yang namanya ketua adat dari Sumatera Barat, datang ke kantor saya, menawarkan kepada saya untuk dijadikan Datuk,” ungkapnya.

Djamari merasa heran dengan tawaran dari tokoh adat yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya. Padahal, dia sudah lama menggunakan marga Chaniago yang merupakan salah satu suku di Minangkabau sejak taruna.

"Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu datang seperti itu. Sebelum-sebelumnya mereka tidak kenal saya, celakanya itu. Tidak kenal. Begitu jadi Menko Polkam, 'Oh, saya jadi orang Minang itu baru sekarang toh?' saya bilang,” ujarnya.

Lantas, Djamari menyindir orang yang hendak memberikan gelar datuk. Dia mempertanyakan makna dan manfaat bagi masyarakat Minangkabau apabila gelar tersebut diberikan kepada dirinya.

"’Loh, betapa berharganya seorang Datuk itu,' saya bilang. 'Oh iya Pak, Datuk ini begini-begini' macam-macam. Sampai saya tanyakan, 'Apa untungnya buat saya dan apa untungnya untuk orang Minang kalau saya jadi Datuk?' Nggak bisa jawab dia,” cerita Djamari sambil menirukan percakapan.

Ia pun secara tegas menyoroti kesalahan dari tokoh adat tersebut yang telah memberikan gelar datuk kepada seorang jenderal yang ternyata terlibat dalam kasus peredaran narkoba.  

“Kemudian saya katakan begini, 'Anda tahu enggak, bahwa Anda pernah salah, pernah salah besar dalam memilih seorang Datuk. Yang katanya itu adalah kebanggaan suku, kebanggaan adat di Minangkabau’,” ucap dia. 

“Kenapa salah? ‘Kamu melantik seorang Jenderal, Datuk, dan dia adalah biang keroknya narkoba. Jadi kamu akan persamakan saya dengan narkoba itu?' Diam dia,” tambah dia.

Karena alasan tersebut, Djamari menegaskan untuk menolak tawaran gelar Datuk yang hendak diberikan. Karena dia melihat jangan sampai membiarkan kesalahan kembali terulang, karena memakai sikap toleransi yang disunggungnya di awal pidato.

“Kita harus sadar kalau ini sudah salah mereka lakukan. Jangan kita dimasukan ke tempat yang salah. Berbeda kualitas saya dengan orang yang menjadi datuk itu, berbeda. Saya berjuang setengah mati demi kepentingan negara bangsa. Tapi dia melakukan sesuatu yang menghancurkan demi negeri ini,” tegasnya.

Sementara terkait pernyataan yang disampaikan Djamari ini telah dikonfirmasi Karo Humas Datin Kemenko Polkam, Kolonel Inf. Honi Havana. Pidato itu berlangsung saat kuliah umum Sespim Lemdikat Polri dengan tema ‘Transformasi Mindset dan Culturset Pimpinan Kemanan Nasional’.

“Betul (acaranya) kemarin,” kata Honi saat dikonfirmasi beritanasional.com, Selasa (10/3/2026). sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: