Dubes Iran: Serangan AS-Israel ke Sekolah, Pelanggaran Hukum Humaniter Internasional

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Sabtu, 14 Maret 2026 | 20:03 WIB
Anak-anak ikut solidaritas terhadap korban di Iran (Foto/Kedubes Iran)
Anak-anak ikut solidaritas terhadap korban di Iran (Foto/Kedubes Iran)

BeritaNasional.com - Kedutaan Besar Republik Islam Iran dengan duka yang mendalam dan rasa pilu yang besar mengecam pembunuhan 175 anak sekolah (siswi) yang tidak berdosa serta terluka-nya lebih dari 95 anak di SD  Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Ini merupakan bagian dari serangan agresif Amerika Serikat dan rezim Zionis ke Iran. 

"Anak-anak tak berdaya ini, hadir di kelas untuk belajar dan membangun masa depan yang cerah, menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal AS-Israel. Hal yang semakin menambah kepahitan tragedi ini adalah bahwa serangan agresif tersebut terjadi pada saat Iran sedang menempuh jalur diplomasi, dialog, dan perundingan, dan para perwakilan negara kami berada di meja perundingan untuk mencapai solusi damai serta memperkuat perdamaian dan stabilitas kawasan," ujar Duta Besar Iran untuk Indonesia Mulia Mohammad Boroujerdi.

Menurut Boroujerdi, penargetan wilayah Iran dan serangan terhadap kawasan sipil tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional sebuah negara merdeka, tetapi juga merupakan pukulan nyata terhadap prinsip penyelesaian damai sengketa dalam sistem internasional. 

Penargetan sebuah sekolah dan pembunuhan anak-anak tak berdaya merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional serta kewajiban yang berasal dari berbagai instrumen internasional yang sah, termasuk Konvensi-konvensi Jenewa dan aturan perlindungan terhadap warga sipil dalam masa konflik bersenjata. 

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, warga sipil—terutama anak- anak—serta pusat-pusat pendidikan harus sepenuhnya terlindungi dari serangan militer. Serangan terhadap sebuah sekolah dasar dan pembunuhan 175 siswi merupakan pelanggaran terhadap prinsip pembedaan antara sasaran militer dan non-militer. Hal ini contoh nyata dari kejahatan perang.

"Kenyataan pahit ini adalah bahwa para pejabat Amerika sendiri juga telah mengakui bahwa serangan tersebut dilakukan oleh mereka. Pengakuan ini menunjukkan tanggung jawab langsung para pelaku tindakan tersebut dan semakin menegaskan pentingnya pertanggungjawaban serta penindakan hukum terhadap kejahatan ini dalam kerangka mekanisme internasional," ujar Boroujerdi.

Sejarah kontemporer juga mencatat berbagai contoh tragis dari jatuhnya korban warga sipil yang tidak bersalah akibat tindakan militer; di antaranya penembakan jatuh pesawat penumpang Iran pada tahun 1988 oleh kapal perang Amerika Serikat yang menyebabkan tewasnya 290 orang tak bersalah, termasuk puluhan anak-anak, serta serangan berulang rezim Zionis terhadap kawasan permukiman di Gaza yang berkali-kali
merenggut nyawa banyak warga sipil dan anak-anak. 

Contoh-contoh ini mengingatkan bahwa pengabaian terhadap prinsip-prinsip hukum internasional selalu menjadikan rakyat biasa dan anak-anak sebagai korban pertama.

"Kedutaan Besar Iran menyerukan kepada hati nurani yang terjaga di dunia, organisasi-organisasi Islam yang aktif, lembaga-lembaga hak asasi manusia internasional, serta organisasi-organisasi pembela hak anak agar tidak berdiam diri terhadap kejahatan seperti ini. Dengan mengecam secara tegas tindakan tersebut, diharapkan mereka mengambil langkah untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban para pelaku, serta mencegah terulangnya tragedi serupa. Perlindungan terhadap kehidupan anak-anak dan warga sipil merupakan tanggung jawab bersama seluruh negara dan bangsa," kata Boroujerdi.

Hari ini Sabtu, 14 Maret 2026 sebuah acara doa bersama dan peringatan untuk mengenang 175 anak yang syahid dalam serangan AS dan Zionis Israel terhadap siswi SD di Kota Minab diselenggarakan di kediaman Duta Besar Republik Islam Iran dengan dihadiri oleh anak-anak Indonesia. Kehadiran anak-anak Indonesia dalam acara ini merupakan simbol solidaritas kemanusiaan dan pesan yang jelas tentang empati bangsa-bangsa  kepada para korban yang tidak bersalah. 

"Ketika anak-anak dari berbagai bangsa berdiri bersama dalam mengenang para korban ini, pada hakikatnya
mereka adalah suara hati nurani dunia yang menyatakan bahwa penderitaan anak-anak di mana pun di dunia adalah penderitaan seluruh umat manusia," terang Boroujerdi.

Diharapkan kenangan dan nama anak-anak tak berdosa ini semakin membangunkan hati nurani dunia dan menjadi inspirasi bagi upaya bersama untuk perdamaian, keadilan, dan perlindungan kehidupan anak-anak di seluruh dunia, hingga tiba hari di mana tidak ada lagi sekolah yang menjadi sasaran perang dan tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan dan agresi. Dengan harapan akan perdamaian, keadilan, dan keamanan bagi seluruh anak di dunia.
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: