Harga Tiket Piala Dunia 2026 Tuai Kontroversi, FIFA Dituding Monopoli

Oleh: Harits Tryan
Rabu, 25 Maret 2026 | 12:00 WIB
Trofi Piala Dunia. (Foto/FIFA)
Trofi Piala Dunia. (Foto/FIFA)

BeritaNasional.com - Sejumlah kelompok konsumen dan suporter di Eropa melayangkan pengaduan terhadap FIFA ke Komisi Eropa terkait harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai terlalu mahal dan tidak ramah bagi pendukung biasa.

Lembaga pengawas konsumen Euroconsumers bersama Football Supporters Europe (FSE) menuduh FIFA menyalahgunakan posisi dominannya dalam penjualan tiket Piala Dunia. Mereka menilai badan sepak bola dunia itu memonopoli distribusi tiket dan menerapkan harga tinggi serta syarat pembelian yang dianggap tidak adil.

Dalam pengaduan tersebut, kedua organisasi menuding adanya pelanggaran terhadap Pasal 102 Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa, yang melarang penyalahgunaan posisi dominan di pasar.

Perwakilan Euroconsumers, Romane Armangau, menegaskan bahwa FIFA memiliki kendali penuh atas penjualan tiket Piala Dunia dan memanfaatkan posisi itu untuk menetapkan harga yang dinilai tidak wajar.

“FIFA memiliki monopoli penuh atas penjualan tiket Piala Dunia. Mereka menggunakan kekuasaan itu untuk menetapkan harga yang tidak akan ada di pasar kompetitif normal sambil menyembunyikan informasi dari pembeli dan memanipulasi mereka untuk mengambil keputusan terburu-buru,” kata Romane Armangau dikutip dari Dailystar, Rabu (25/3/2026).

Kelompok-kelompok tersebut juga menyoroti sejumlah dugaan praktik yang dinilai merugikan konsumen. Di antaranya adalah minimnya transparansi terkait kategori tiket dan alokasi tempat duduk, penerapan sistem harga variabel yang bisa membuat harga naik dari waktu ke waktu, hingga sulitnya memperoleh tiket termurah yang diiklankan seharga 45 poundsterling.

Menurut Romane, para pembeli kerap tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai tiket yang mereka beli.

“Saat Anda membeli tiket itu, Anda sebenarnya tidak tahu apa yang Anda beli,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat Piala Dunia 2026 semakin sulit dijangkau oleh para suporter biasa dari sisi finansial.

“Itu berarti menghadiri Piala Dunia 2026 telah menjadi sesuatu yang di luar jangkauan finansial bagi sebagian besar pendukung biasa,” tambahnya.

Sementara itu, FIFA menyatakan telah mengetahui adanya pernyataan terkait dugaan pengaduan tersebut, namun mengaku belum menerima dokumen resmi dari Komisi Eropa.

Juru bicara FIFA mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan tanggapan lebih lanjut karena belum ada pemberitahuan resmi yang diterima.

“FIFA telah diberi tahu tentang pernyataan yang berkaitan dengan pengaduan yang tampaknya ada, namun belum diterima secara resmi. Oleh karena itu, FIFA belum dapat memberikan komentar lebih lanjut pada tahap ini,” ujar juru bicara FIFA.

FIFA menegaskan bahwa pihaknya tetap berfokus untuk memastikan akses yang adil bagi penggemar sepak bola di seluruh dunia.

“FIFA fokus pada memastikan akses yang adil terhadap permainan kami bagi penggemar yang sudah ada dan calon penggemar,” lanjutnya.

Selain itu, FIFA juga menekankan bahwa sebagai organisasi nirlaba, pendapatan dari ajang Piala Dunia akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola global.

“Sebagai organisasi nirlaba, pendapatan yang dihasilkan FIFA dari Piala Dunia diinvestasikan kembali untuk mendorong pertumbuhan olahraga ini putra, putri, dan junior di seluruh 211 asosiasi anggota FIFA di seluruh dunia,” kata juru bicara tersebut.

Pengaduan ini menambah sorotan terhadap kebijakan penjualan tiket Piala Dunia 2026, yang sejak awal menuai kritik dari sejumlah kelompok suporter karena dianggap kurang transparan dan membebani penggemar biasa.

Sumber: Dailystarsinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: