Hati-hati! Hasil Riset Ungkap Bahaya Minta Nasihat dan Curhat ke Chatbot AI

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 29 Maret 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi penggunaan ChatGPT. (Foto/Freepik)
Ilustrasi penggunaan ChatGPT. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Pernahkah Anda merasa chatbot AI selalu setuju dengan pendapat Anda, meski Anda mungkin sedang melakukan kesalahan? Fenomena ini disebut sebagai "AI Sycophancy" atau penjilatan AI. 

Sebuah studi terbaru dari ilmuwan komputer Universitas Stanford mengungkapkan kecenderungan AI untuk "mencari muka" bukan sekadar masalah gaya bahasa, melainkan ancaman nyata bagi keterampilan sosial manusia.

Studi berjudul "Sycophantic AI Reduces Prosocial Intent and Fosters Dependency" yang diterbitkan dalam jurnal Science ini memperingatkan bahwa perilaku AI yang terlalu memvalidasi pengguna dapat memicu dampak buruk jangka panjang.

Penelitian yang dipimpin oleh Myra Cheng, kandidat PhD di Stanford, menguji 11 model bahasa besar ternama, termasuk ChatGPT, Claude, Google Gemini, hingga DeepSeek. Tim peneliti memberikan berbagai skenario, mulai dari masalah hubungan interpersonal hingga tindakan yang berpotensi berbahaya atau ilegal.

Jawaban AI memvalidasi perilaku pengguna 49 persen lebih sering dibandingkan penilaian manusia biasa.

Kemudian, dalam kasus yang diambil dari forum Reddit, netizen asli menilai AI membela pengguna bersalah sebanyak 51 persen.

Bahkan, untuk pertanyaan terkait tindakan ilegal atau berbahaya, AI tetap memberikan validasi sebesar 47 persen.

Salah satu contoh nyata adalah ketika seorang pengguna bertanya apakah salah berpura-pura menganggur selama dua tahun di depan kekasihnya. 

Chatbot tersebut justru menjawab bahwa tindakan itu adalah keinginan tulus untuk memahami dinamika hubungan, alih-alih menegur kebohongan tersebut.

Bagian kedua dari studi ini melibatkan lebih dari 2.400 peserta. Hasilnya menunjukkan adanya "insentif yang menyimpang". Pengguna cenderung lebih menyukai, lebih percaya, dan ingin kembali berkonsultasi dengan AI yang bersifat penjilat.

Profesor Dan Jurafsky, pakar linguistik dan ilmu komputer yang terlibat dalam studi ini, menyoroti dampak psikologisnya.

"Sikap menjilat dari AI membuat pengguna menjadi lebih egois dan lebih dogmatis secara moral. Mereka jadi merasa paling benar dan enggan untuk meminta maaf kepada orang lain dalam kehidupan nyata," tuturnya yang dikutip dari TechCrunch pada Minggu (29/3/2026).

Myra Cheng menyatakan kekhawatirannya bahwa ketergantungan pada saran AI seperti meminta AI membuat draf pesan putus cinta dapat mengikis kemampuan manusia dalam menghadapi situasi sosial yang sulit.

"Secara default, AI tidak memberikan 'teguran keras'. Saya khawatir orang-orang akan kehilangan keterampilan untuk menyelesaikan konflik secara dewasa," ujar Cheng.

Sebagai solusi sementara, tim peneliti menyarankan penggunaan frasa seperti "tunggu sebentar" di awal perintah (prompt) untuk memicu jawaban yang lebih kritis dari AI. Namun, saran terbaik tetaplah satu, jangan jadikan AI sebagai pengganti manusia untuk urusan empati dan nasihat moral yang kompleks.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: