Bapanas Pastikan Stok Pangan Nasional Aman, Cadangan Beras Bulog Capai 4,22 Juta Ton

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 30 Maret 2026 | 13:33 WIB
Suasana jual beli bahan pangan di pasar Agung Depok. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Suasana jual beli bahan pangan di pasar Agung Depok. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi kuat dan mencukupi. Kondisi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri, dengan dukungan cadangan yang memadai serta proyeksi surplus pada sejumlah komoditas strategis.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi ketersediaan pangan nasional. Menurut dia, posisi stok dan produksi saat ini berada dalam kondisi yang sangat memadai untuk menjaga stabilitas pasokan ke depan.

“Kalau kita bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir. Berdasarkan proyeksi neraca pangan kita, posisi stok sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton, kemudian saat ini cadangan pangan di Bulog sekitar 4,22 juta ton,” ujar Ketut dikutip, Senin (30/3/2026).

Penguatan ketersediaan pangan juga tercermin dari posisi cadangan pangan pemerintah. Berdasarkan data per 26 Maret 2026, stok beras yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,22 juta ton. Selain beras, sejumlah komoditas lain juga dinilai relatif aman terhadap kebutuhan bulanan, antara lain jagung sekitar 155 ribu ton dan minyak goreng sekitar 117 ribu kiloliter.

Di sisi produksi, tren pasokan pangan nasional disebut terus menguat seiring berlangsungnya musim tanam dan panen. Produksi telah berjalan sejak awal tahun dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada periode panen raya yang diprediksi terjadi pada April.

“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” lanjutnya.

Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 turut memperkuat optimisme pemerintah. Untuk komoditas beras, total ketersediaan diperkirakan mencapai lebih dari 47 juta ton yang merupakan akumulasi stok dan produksi, sementara kebutuhan sepanjang tahun diperkirakan sekitar 31 juta ton, sehingga menghasilkan surplus yang signifikan.

Komoditas lainnya juga menunjukkan neraca yang positif. Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir 2026 sekitar 4,99 juta ton. Pada komoditas protein hewani, daging ayam ras diperkirakan mencatat stok akhir sekitar 1,7 juta ton, sementara telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Adapun gula konsumsi diperkirakan memiliki stok akhir sekitar 1,33 juta ton. Kondisi tersebut mencerminkan kuatnya produksi dalam negeri yang menjadi penopang utama ketersediaan pangan nasional.

Ketut menambahkan, sebagian besar komoditas pangan strategis nasional memang ditopang oleh produksi domestik sehingga memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.

“Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan dalam menjaga keberlanjutan produksi, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memasuki musim kemarau. Berbagai langkah antisipasi disebut telah disiapkan untuk memastikan produksi tetap optimal.

“Kita optimis ketahanan pangan terjaga, karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan, termasuk percepatan tanam dan bantuan sarana produksi untuk menjaga produksi tetap optimal,” tambahnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan produksi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurut dia, tren panen raya yang berlangsung di banyak daerah menjadi faktor utama yang membuat stok beras nasional berada dalam kondisi sangat kuat.

“Produksi kita meningkat, panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen di berbagai daerah, sehingga stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional,” ujar Amran.

Amran menambahkan, keseimbangan antara produksi dan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di tengah masyarakat.

“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,” kata Amran.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: