KSAD Tegaskan Pasukan Perdamaian Indonesia Sudah Punya SOP, Termasuk Masuk Bunker
BeritaNasional.com - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian telah dibekali standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, termasuk instruksi untuk masuk bunker dalam kondisi tertentu.
Pernyataan itu disampaikan Maruli merespons insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam tugas pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Menurut dia, setiap prajurit yang dikirim ke wilayah misi sudah memiliki pedoman tindakan sesuai situasi yang dihadapi di lapangan.
"Ya, sebetulnya, eh, mereka sudah ada SOP, ya. SOP untuk bagaimana apa yang harus dilakukan dengan kondisi apa. terus terang saya juga belum pernah sampai di sana, jadi saya tidak bisa berani menceritakan secara detail, apakah seratus persen aman bunker-nya mereka atau lain sebagainya. Jadi, saya kira SOP mereka sudah, sudah ada, dan bagaimana nanti pelaksanaannya tinggal nunggu waktu," kata Maruli di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4/2026)
Ia menjelaskan, prosedur masuk bunker bukan hal baru dalam penugasan pasukan perdamaian, melainkan bagian dari protokol yang harus dijalankan ketika kondisi keamanan di lapangan memburuk.
"Sebetulnya itu udah SOP-nya dalam penugasan ya. Dalam kondisi tertentu mereka ada instruksi untuk masuk bunker dan lain sebagainya. Jadi, ini makanya kita harus ada nanti, saya kira pasti ada tim yang akan mencari apa, bagaimana sih sebetulnya peristiwa tersebut," ujarnya.
Maruli menambahkan, pihak TNI dan Kementerian Pertahanan akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui secara rinci kronologi insiden yang menyebabkan tiga prajurit gugur. Ia menilai langkah tersebut penting agar peristiwa yang sebenarnya dapat diketahui secara utuh.
"Jadi, mudah-mudahan nanti tindak lanjut penyelesaian ini saya kira sudah direncanakan oleh Mabes TNI, Kementerian Pertahanan, dan juga mungkin atas nama negara mudah-mudahan bisa semakin jelas apa bagaimana peristiwa ini terjadi," ujarnya.
Perlu diketahui kondisi eskalasi di Lebanon Selatan sedang meningkat, dampaknya delapan prajurit TNI menjadi korban, tiga di antaranya gugur akibat serangan saat konflik tersebut.
Di mana Insiden fatal ini terjadi hanya dalam waktu 24 jam pertama terhadap empat prajurit TNI yakni, Praka Farizal Rhomadhon gugur, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan akibat serangan militer Israel pada Minggu (29/3/2026).
Kemudian untuk serangan terbaru, berdasarkan laporan terjadi saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) terjadi saat pelaksanaan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).
Diketahui CSSU adalah satuan pendukung yang bertugas memberikan dukungan bagi markas komando. Di mana dalam insiden itu, sedang melakukan konvoi dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.
Sementara, dua prajurit lainnya yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto menjalani luka yang saat ini telah dievakuasi dan dalam penanganan medis di Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon.
Akibat serangan ini, TNI dalam melaksanakan penugasan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian tetap mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) UNIFIL. 
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu







