Waspadai Kerentanan Pangan di Tengah Konflik Global dan El Nino

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Minggu, 12 April 2026 | 18:32 WIB
Anggota DPR Fraksi PKS Slamet. (BeritaNasional/istimewa)
Anggota DPR Fraksi PKS Slamet. (BeritaNasional/istimewa)

BeritaNasional.com -  Anggota DPR Fraksi PKS Slamet mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan sikap optimisme berlebihan terkait kondisi pangan nasional. Meskipun dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian, KKP, Bapanas, Bulog, dan ID FOOD disampaikan kondisi pangan relatif aman, fakta di lapangan menunjukkan tingkat kerentanan yang cukup tinggi, terutama akibat ketergantungan impor pada sejumlah komoditas strategis.

Data menunjukkan beberapa komoditas utama masih sangat bergantung pada impor dalam jumlah besar. Kedelai, misalnya, ditargetkan impor mencapai 2,57 juta ton pada 2026, jauh di atas target produksi domestik yang hanya sekitar 311 ribu ton.

Gandum bahkan sambung dia 100% masih impor dengan volume mencapai 11,7 juta ton. Sementara kebutuhan susu nasional juga mengalami defisit hingga 3,5–4 juta ton per tahun yang harus ditutup dari impor.

"Ketergantungan ini menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan global, baik akibat konflik geopolitik, gangguan logistik, maupun pelemahan nilai tukar rupiah," terangnya.

Lebih lanjut, Slamet menyoroti potensi tekanan tambahan dari kenaikan harga energi global yang berdampak langsung pada harga pupuk. Kenaikan harga gas sebagai bahan baku pupuk berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian yang akhirnya menekan produktivitas dan meningkatkan harga pangan domestik.

"Dalam kondisi bersamaan, ancaman kemarau panjang akibat El Nino juga berpotensi menurunkan produksi dalam negeri, sebagaimana risiko pada komoditas kedelai dan jagung yang sangat sensitif terhadap ketersediaan air dan input produksi," ungkapnya, Minggu (12/4/2026).

Oleh karena itu, Slamet menegaskan sikap optimis harus tetap diiringi dengan kewaspadaan dan langkah mitigasi yang konkret. Pemerintah perlu segera memperkuat strategi ketahanan pangan melalui percepatan substitusi impor, penguatan cadangan pangan nasional, diversifikasi sumber bahan baku, serta stabilisasi harga pupuk dan energi bagi petani.

Selain itu, diperlukan skenario kontinjensi menghadapi “double shock” berupa konflik global dan El Nino agar Indonesia tidak terjebak pada krisis pangan yang berdampak luas terhadap inflasi dan stabilitas sosial-ekonomi.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: