Cerita di Balik Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran, Ngotot Naik saat Gerimis Tanpa Jas Hujan

Oleh: Kiswondari
Selasa, 14 April 2026 | 15:10 WIB
Tim Semarang Mountain Race membantu menyiapkan tenda Basarnas untuk ayah dan balita yang hipotermia di Gunung Ungaran, Semarang, (BeritaNasional/Threads M. Fadhli)
Tim Semarang Mountain Race membantu menyiapkan tenda Basarnas untuk ayah dan balita yang hipotermia di Gunung Ungaran, Semarang, (BeritaNasional/Threads M. Fadhli)

BeritaNasional.com - Berita tentang bayi usia 1,5 tahun (balita) yang mengalami hipotermia saat dibawa naik mendaki Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah (Jateng) pada Sabtu (11/4/2026) membuat banyak orang geram, khususnya kalangan orang tua. Ternyata, ada cerita lain yang dari salah satu panitia Semarang Mountain Race yang kebetulan bertemu di lokasi dan sempat membantu bayi tersebut. 

Melalui akun Threads pribadinya @muhfadhliiiii, Muhammad Fadhli menceritakan kejadian sebelum anak tersebut hipotermia. Dia dan bersama teman-temannya saat itu bertugas di Puncak Bondolan sampai Puncak Botak sekitar pukul 9-10 pagi. Saat ia hendak turun menuju Puncak Bondolan, ia berpapasan dengan pasangan suami-istri yang awalnya ia tidak menyadari bahwa mereka membawa anak, namun saat ia menoleh, ia melihat ada anak balita yang digendong oleh si suami. 

Saat ia turun, kondisi sudah mulai berkabut dan mendung. Sesampainya di Puncak Bondolan, tak lama kemudian mulai gerimis. Di lokasi tersebut, Fadhli bertugas bersama dengan tujuh orang lainnya yakni, 3 fotografer, 1 videografer, 1 tim CP (contact person) atau porter dan 2 orang Tim Basarnas.

Sekitar pukul 12.00 - 13.00 siang, hujan turun namun belum begitu lebat, ia bersama rekannya melihat si istri yang sempat berpapasan tadi tanpa suami dan anaknya. Si istri menitipkan sebotol susu ke Porter timnya yang bernama Kopos. Dalam hati pun ia bertanya, kenapa si istri hanya sendirian. 

"Sekitar jam 12-1 siang mulai turun hujan belum begitu lebat sih. Terus keliatan si istri turun tapi ngga bareng sama suaminya, nah si istri cuma nitipin susu botol ke mas Kopos, oiya mas Kopos ini Porter sekaligus tim CP ya. gua yang ngeliat itu langsung mikir loh kenapa ga bareng sama suami dan anaknya, apa emang ketinggalan di belakang," kata Fadhli yang dikutip BeritaNasional, Selasa (14/4/2026). 

Sementara itu, Fadhli juga menceritakan keterangan dari temannya yang lain. Menurut cerita fotografer lainnya, Agung @versus_sport_event yang bertugas di atas, sebelum Puncak Botak, ia sempat bertemu dengan si suami dengan balita ini. Dan Agung menyuruh si suami ini turun karena kondisi sudah gerimis, namun si suami ini tidak mau mendengar dan tetap berjalan ke atas puncak. 

"Sempet ketemu sama si suami dan anaknya ini. Sama mas @versus_sport_event udah disuruh turun karena cuacanya emang udah mau gerimis, tapi tetep aja naik. udah bener-bener disaranin banget turun sama mas Agung tapi ya ngeyel begitu," ungkapnya. 

Menurut Fadhli, beberapa orang yang ada di sana juga mulai khawatir dengan keadaan si anak yang memang masih balita. Selang beberapa waktu kemudian, si suami dan balita yang digendongnya muncul tanpa mengenakan jas hujan. Tanpa pikir panjang, Fadhli dan teman-teman timnya langsung berinisiatif menyiapkan tenda Basarnas untuk digunakan balita ini berteduh. 

"Terus lumayan lama tuh akhirnya keliatan si suami dan anaknya turun. Kalian tau apa? Posisi si suami ngga pake jas hujan yang otomatis kita mikir pasti si anak juga ga pake jas hujan dong. Yaudah mulai kita prepare buat nyiapin tenda Basarnas biar dipake mereka buat berteduh," terangnya. 

Kembali lagi ke kondisi saat si suami dan balita tiba di tenda Basarnas, Kopos langsung menyuruh si ayah anak itu untuk masuk ke tenda membuka pakaian si balita. Fadhli pun menyaksikan bagaimana tubuh balita itu gemetar karena kedinginan. 

"Gua di sana lagi bertugas buat ngefotoin peserta trail run, ketika gua liat ke tenda Basarnas. si Anak udah gemeter kaya bener-bener kedinginan," tulis Fadhli. 

Fadhli pun dalam hatinya menangis dan sangat kesal dengan tingkah orang tua yang tegas membiarkan balita sekecil itu harus kedinginan di atas gunung. 

"Jujur banget, waktu ngeliat itu gua nangis dan kesel sendiri. Apa sih yang dicari sampai harus merelakan anaknya mengigil kaya gitu. Yang gua pikirin, yaudah mereka udah dibantu sama tim Basarnas jadi gua dan mas Kopos bisa fokus ngelarin tugas dulu," ungkapnya. 

Ditambah, Iwan @tengakarta, temannya, menceritakan bahwa balita itu sempat hanya terdiam saja, hingga akhirnya harus mencubit si balita biar menangis (hipotermia tidak boleh dibiarkan diam).

"Singkat cerita mas iwan @tengakarta ikut ngebantu juga. kalian harus tau mas @tengakarta cerite ke gua, kalau ada momen si anak sempet diem aja. akhirnya di cubit diapain aja sampe si anak nangis. Kata mas @tengakarta mendingan si anak nangis dari pada diem aja. itu malah bikin khawatir," terangnya. 

Di dalam tenda Basarnas, temannya yang lain, @mickavanhalen juga ikut membantu tim Basarnas dan Iwan untuk menenangkan si balita. Apalagi, temannya,
@mickavanhalen juga punya anak kecil sebaya, yang apsti ikut khawatir. 

Akhirnya, setelah beberapa lama penanganan, si balita mulai membaik dan suhu tubuhnya kembali normal. Hujan sedikit reda, dan si suami bersama si balita itu turun ke bawah ditemani tim Basarnas. 

"Oke akhirnya kondisi mulai membaik si anak keliatan baik aja dan suhu tubuhnya mulai normal juga, posisi udah sedikit reda akhirnya si suami dan anak ini turun yang ditemenin sama tim Basarnas 1 orang. Dari situ kita udah ngga tau ceritanya lagi," tulisnya. 

"Mungkin nanti bisa dapet cerita dari POV kawan-kawan yang lain. Diluar ada atau tidaknya tim @semarangmountainrace di Gunung Ungaran, ini jadi pembelajaran buat kita semua. Buat semua umur yaa, cuaca di gunung tuh gabisa diprediksi. Perubahan cuacanya bisa dalam sekejap, dari panas ke hujan bahkan sebaliknya. Mau udah sering naik atau baru naik gunung seHARUSnya equipment yang bisa bikin kita selamat sebaiknya dibawa aja. Gapapa berat dan ribet asal SELAMAT. Sekian ya POV dari gua," pesannya mengakhiri utas. 

Selain itu, Fadhli juga menegaskan bahwa pasangan suami istri tersebut bukan bagian dari peserta Semarang Mountain Race. sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: