Aktivitas Maritim di Selat Hormuz Tetap Jalan di Tengah Kebijakan AS
BeritaNasional.com - Data pelacakan maritim menunjukkan sejumlah kapal yang berkaitan dengan Iran masih melintasi Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat mulai memberlakukan pembatasan baru terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Langkah dari United States ini disebut mencakup larangan terhadap seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran, meski Washington menegaskan kebijakan tersebut tidak mengganggu kebebasan navigasi kapal yang tidak terkait Iran di Selat Hormuz.
Meski kebijakan sudah berlaku, sejumlah kapal tetap terpantau bergerak di kawasan tersebut.
Kapal Christianna, misalnya, diketahui baru saja meninggalkan pelabuhan Bandar Imam Khomeini setelah sebelumnya sempat tertahan. Sementara itu, kapal Ladonna dilaporkan berada di pelabuhan yang sama selama hampir sepekan sebelum akhirnya kembali aktif dan bergerak menuju Teluk Persia.
Beberapa kapal lain juga ikut melintas, termasuk Murlikishan yang sebelumnya masuk dalam daftar sanksi terkait Iran. Kapal ini bergerak ke arah barat melalui selat, bersamaan dengan tanker Peace Gulf yang sebelumnya pernah singgah di Iran pada akhir 2025.
Kapal Rich Starry dan Elpis juga tercatat melintasi jalur yang sama setelah kebijakan pembatasan diberlakukan, dengan salah satunya diduga berangkat dari pelabuhan Bushehr di Iran.
Namun, data pelacakan tersebut masih menyisakan ketidakpastian karena adanya kemungkinan manipulasi sinyal lokasi atau yang dikenal dengan istilah spoofing, sehingga posisi asli kapal tidak dapat sepenuhnya diverifikasi.
China Kecam Langkah AS
Di tengah situasi tersebut, China melontarkan kritik keras terhadap kebijakan blokade Amerika Serikat. Beijing menyebut langkah itu sebagai tindakan yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab karena dinilai dapat memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri China menilai kebijakan tersebut berpotensi mengganggu gencatan senjata yang masih rapuh di wilayah konflik, terutama setelah meningkatnya aktivitas militer AS di sekitar jalur strategis itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis ini adalah melalui gencatan senjata penuh dan dialog antara pihak-pihak terkait.
China juga menyatakan akan terus mendorong upaya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, mengingat kepentingan besar negara tersebut terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.
Beijing sendiri diketahui merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah Iran, sehingga gangguan di Selat Hormuz berpotensi berdampak langsung terhadap ekonomi China.
Ketegangan di Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Pada perdagangan awal pekan, harga minyak jenis Brent tercatat melemah di bawah level US$100 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sekitar 2 persen.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







