Strategi Branding Berubah: AI Bikin Mudah, Tapi Berisiko
BeritaNasional.com - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga cara brand membangun kepercayaan. Di tengah perubahan ini, pendekatan lama tak lagi cukup.
Dalam ajang The 11TH WOW Brand 2026, CEO Iwan Setiawan menyoroti bagaimana strategi branding kini harus beradaptasi dengan lanskap yang semakin sosial, personal, dan berbasis data.
Ia menjelaskan, branding yang dulu bergantung pada media konvensional seperti televisi dan media cetak kini bergeser ke platform digital. Kehadiran media sosial mengubah pola komunikasi dari satu arah menjadi interaktif, di mana konsumen tidak lagi sekadar menerima pesan, tetapi juga ikut terlibat dan saling memengaruhi.
Dari situ, muncul pendekatan social branding. Dalam praktiknya, kepercayaan publik kini lebih mudah diberikan kepada figur seperti influencer dibandingkan brand itu sendiri. Konten yang dibawakan individu cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan pesan resmi perusahaan. Karena itu, brand dituntut tampil lebih terbuka dan autentik.
“Brand yang terlalu sempurna justru sulit dipercaya. Di media sosial, yang autentik biasanya lebih berhasil,” jelas Iwan, di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Perkembangan media sosial juga membawa dampak lain, terbukanya data perilaku konsumen. Mulai dari kebiasaan makan hingga pola belanja, banyak informasi kini tersedia secara alami dari aktivitas pengguna.
Data ini menjadi bahan bakar utama bagi perkembangan AI, termasuk sejak populernya ChatGPT Cs. Dengan dukungan data, brand bisa menyusun strategi yang lebih personal, menyesuaikan produk dan komunikasi dengan preferensi masing-masing individu.
Pendekatan ini terlihat jelas di berbagai platform digital, di mana setiap pengguna mendapatkan rekomendasi konten atau produk yang berbeda sesuai perilakunya.
Meski personalisasi berkembang pesat di dunia digital, Iwan menilai hal itu belum cukup. "Brand perlu menghadirkan pengalaman yang relevan juga di dunia fisik, baik di toko maupun dalam berbagai aktivitas pemasaran langsung," katanya.
"Pendekatan experiential menjadi kunci, agar interaksi dengan konsumen tidak hanya terasa personal di layar, tetapi juga nyata dalam pengalaman langsung. Kombinasi antara social, personal, dan experiential inilah yang membentuk strategi marketing saat ini," ucapnya lebih lanjut.
AI Bikin Mudah, Tapi Juga Menantang
Di sisi lain, kemajuan AI menghadirkan tantangan baru bagi para marketer. Berbagai pekerjaan seperti pembuatan konten, naskah iklan, hingga visual kini bisa diselesaikan dengan cepat menggunakan AI.
Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang peran manusia ke depan. Iwan mengingatkan bahwa AI pada dasarnya hanya mengolah data yang ada dan cenderung menghasilkan jawaban yang aman.
“AI itu generalis, bukan spesialis. Dia tahu banyak hal, tapi tidak punya sudut pandang yang kuat,” tegasnya.
Akibatnya, strategi yang dihasilkan sering terasa seragam dan kurang memiliki karakter. Padahal, diferensiasi justru lahir dari keberanian mengambil posisi yang unik.
Selain itu, ia juga menyoroti risiko kesalahan dalam penggunaan AI, khususnya fenomena “halusinasi”. Dalam kondisi tertentu, AI bisa memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu benar.
Jika tidak dikaji ulang, hal ini berpotensi menyesatkan dalam pengambilan keputusan, terutama dalam strategi branding.
“Jangan sampai kita terpukau dengan kemasannya, tapi lupa mengecek isinya benar atau tidak,” tegasnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







