Kendala Kemasan Tak Hambat Distribusi Bantuan Pangan, Ini Strategi Bulog
BeritaNasional.com - Perum Bulog memastikan penyaluran program bantuan pangan tetap berjalan di tengah kendala pasokan bahan baku plastik yang terjadi secara global. Pemerintah pun melakukan percepatan distribusi dengan menerapkan simplifikasi kemasan agar penyaluran bantuan tidak terhambat.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten, Taufan Akib, mengatakan kendala kemasan sempat menghambat proses distribusi bantuan pangan karena bahan baku kemasan menggunakan biji plastik yang terdampak situasi geopolitik.
“Kemarin kita agak terhambat karena faktor geopolitik, penyediaan kemasan itu kan menggunakan biji plastik. Tapi alhamdulillah sekarang sudah berjalan dan ini bisa kita lakukan percepatan," kata Taufan dilansir dari laman Badanpangan, Minggu (10/5/2026).
"Begitu kemasan datang, langsung kami repack, langsung kami salurkan sehingga bantuan pangan tidak terhambat," tambah Pimwil Taufan.
Menurut Taufan, simplifikasi kemasan bantuan pangan dilakukan tanpa mengurangi kualitas kemasan maupun isi produk. Penyesuaian hanya dilakukan pada tampilan visual agar lebih sederhana dan efisien.
"Untuk tampilan (kemasan) yang tadinya kita degradasi warna ada 4 sampai 2 warna, sekarang menggunakan 1 warna. Tapi dari segi kualitas kemasan itu tetap tidak menurunkan standar kualitasnya. Dari segi kualitas masih sama cuma dari segi huruf saja atau tulisan lebih sederhana," urai dia.
Sementara itu, kemasan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih menggunakan desain sebelumnya karena stok kemasan yang tersedia dinilai masih mencukupi sebelum terjadi kendala bahan baku plastik.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional atau Bapanas memberikan kebijakan perpanjangan batas waktu penyaluran bantuan pangan hingga 31 Mei 2026. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut atas permohonan perpanjangan waktu yang diajukan Bulog pada akhir Maret lalu.
Bapanas juga meminta Bulog segera mengatasi kendala kemasan dengan memanfaatkan kemasan yang tersedia. Jika kemasan sesuai kriteria program bantuan pangan belum tersedia, Bulog diperbolehkan menggunakan kemasan lain dengan tambahan identitas bantuan pangan.
"Selanjutnya agar Bulog melakukan percepatan penyaluran melalui beberapa langkah dengan memanfaatkan kemasan yang tersedia. Apabila belum tersedia kemasan yang sesuai dengan kriteria dapat menggunakan kemasan dengan menambahkan identitas bantuan pangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa.
Program bantuan pangan menjadi salah satu stimulus ekonomi pemerintah untuk menjaga konsumsi masyarakat. Program tersebut berupa penyaluran beras dan minyak goreng gratis kepada masyarakat penerima manfaat.
Berdasarkan catatan Bapanas, selama triwulan pertama 2026 sebanyak 1,85 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) telah menerima bantuan pangan berupa 37,1 juta kilogram beras dan 7,4 juta liter minyak goreng.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan, tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari konsumsi rumah tangga dengan porsi 54,36 persen dan pertumbuhan sebesar 5,52 persen. Kelompok restoran dan hotel menjadi penyumbang pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi dengan 7,38 persen, disusul kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 6,91 persen.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







