UNESCO: Jumlah Mahasiswa Dunia Melonjak Dua Kali Lipat dalam 20 Tahun, tapi Masih Ada Kesenjangan

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:00 WIB
Ilustrasi mahasiwa Harvard. (Foto/Harvard University)
Ilustrasi mahasiwa Harvard. (Foto/Harvard University)

BeritaNasional.com - Laporan Tren Global Pendidikan Tinggi perdana yang dirilis oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (UNESCO) pada Selasa (12/5/2026) mengungkapkan fakta yang kontras dalam dunia pendidikan tinggi. 

Meskipun akses terhadap pendidikan tinggi mengalami pertumbuhan pesat secara global, ketimpangan yang mendalam berdasarkan letak geografis dan gender masih menjadi tantangan besar.

Laporan yang disusun berdasarkan data terbaru dari 146 negara tersebut mencatat lonjakan drastis dalam pendaftaran mahasiswa global. 

Pada tahun 2000, jumlah mahasiswa di seluruh dunia berada di kisaran 100 juta orang. Pada tahun 2024, angka ini melesat hingga mencapai 269 juta orang.

Kesenjangan Pendidikan Antarnegara

Di balik pertumbuhan angka yang masif tersebut, laporan UNESCO menyoroti ketimpangan yang tajam antarwilayah.

Di wilayah Eropa Barat dan Amerika Utara, tercatat 80 persen anak muda telah mengenyam pendidikan tinggi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Afrika sub-Sahara. Pendaftaran mahasiswa hanya mencapai 9 persen.

Selain itu, mobilitas internasional masih tergolong rendah dengan hanya 3 persen mahasiswa di seluruh dunia yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.

Isu Gender dan Akses bagi Pengungsi

Kesenjangan gender juga menjadi poin krusial dalam laporan ini. Perempuan masih menghadapi hambatan besar di jenjang yang lebih tinggi. Mereka kurang terwakili pada tingkat doktoral dan hanya mengisi sekitar seperempat dari posisi kepemimpinan di dunia akademik.

Hambatan lain yang diidentifikasi oleh UNESCO adalah kesulitan akses bagi kelompok pengungsi, khususnya di negara-negara Global Selatan. 

Banyak pengungsi tidak memiliki dokumen kualifikasi akademik yang lengkap atau dapat diverifikasi, sehingga sulit bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan.

Solusi UNESCO

Guna meruntuhkan tembok penghalang bagi para pengungsi dan orang-orang yang dipindahkan secara paksa, UNESCO memperkenalkan terobosan baru bernama Paspor Kualifikasi. 

Alat ini dirancang khusus untuk membantu pengakuan terhadap kualifikasi akademik, profesional, maupun kejuruan mereka sehingga peluang untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi menjadi lebih terbuka.

Melalui laporan ini, UNESCO mendesak dunia internasional untuk tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah mahasiswa, tetapi juga memastikan kesetaraan akses bagi semua kalangan tanpa terkecuali.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: