Kenali Pengertian Konsep Dovish vs Hawkish hingga Dampaknya bagi Investasi

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Selasa, 30 Juni 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi investasi (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi investasi (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Pernah mendengar istilah Dovish dan Hawkish? Bagi yang selalu mengamati pasar keuangan maka tidak asing dengan dua istilah penting ini. Sebaliknya bagi masyarat awam tentu sangat asing namun bukan berarti hal ini tidak bisa dipahami bagi yang ingin mengetahui situasi ekonomi khususnya pasar keuangan bagi investor agar bisa mengambil keputusan yang terencana.

Melansir laman Pegadaian berikut ulasan singkatnya

Arah pergerakan pasar keuangan sering kali berubah hanya karena satu hal yaknni sikap bank sentral. Saat regulator mengirimkan sinyal tertentu yang bersifat menenangkan atau mengerem laju ekonomi, sentimen pasar bisa berubah drastis.

Perubahan sentimen ini yang biasanya berawal dari keputusan kebijakan moneter yang diumumkan secara berkala. Melalui keputusan tersebut, bank sentral memberikan petunjuk mengenai arah ekonomi ke depan.

Dalam konteks ini muncul dua istilah yang paling sering digunakan untuk menggambarkan sikap kebijakan tersebut, yaitu dovish dan hawkish, yang masing-masing membawa dampak berbeda bagi pasar.

Bagi investor, memahami kedua istilah ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi menjadi kunci untuk menyesuaikan strategi di tengah dinamika ekonomi.

Kenali konsep Dovish dan Hawkish

Dalam kebijakan moneter, dovish merupakan sikap bank sentral yang cenderung melonggarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Biasanya, pendekatan ini dilakukan melalui penurunan suku bunga atau kebijakan lain yang menambah likuiditas.

Sebaliknya, hawkish yakni pendekatan yang lebih ketat dan fokus pada pengendalian inflasi. Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk mengurangi tekanan harga agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Kedua istilah ini berasal dari karakteristik hewan yang merepresentasikannya, yaitu merpati (dovish) yang jinak dan cenderung “mengangkat” pasar, sedangkan elang (hawkish) menggambarkan tindakan tegas dan “menekan” aktivitas ekonomi.

 Apa perbedaannya?

Perbedaan utama dovish dan hawkish ada pada tujuan kebijakan, cara pelaksanaannya, serta dampaknya terhadap ekonomi. Berikut ini perbedaannya:

1. Tujuan Kebijakan

Dalam kebijakan hawkish, fokus utama bank sentral adalah menjaga inflasi tetap terkendali. Langkah-langkah yang diambil biasanya bertujuan menahan laju kenaikan harga agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Sebaliknya, kebijakan dovish lebih menitikberatkan pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral cenderung memberikan stimulus untuk menurunkan tingkat pengangguran dan meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

2. Arah Suku Bunga

Sikap hawkish biasanya ditandai dengan kecenderungan menaikkan suku bunga. Kenaikan ini membuat biaya pinjaman menjadi lebih tinggi sehingga aktivitas ekonomi dapat melambat.

Sementara itu, kebijakan dovish menunjukkan arah yang berlawanan. Bank sentral lebih memilih menurunkan suku bunga untuk mendorong konsumsi dan investasi, karena biaya pinjaman yang lebih rendah membuat pelaku ekonomi lebih aktif.

3. Dampak terhadap Mata Uang

Kebijakan hawkish umumnya membawa penguatan terhadap nilai mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi menarik minat investor asing untuk menempatkan dana, sehingga permintaan terhadap mata uang meningkat.

Di sisi lain, kebijakan dovish dapat menyebabkan pelemahan mata uang. Hal ini terjadi karena peningkatan likuiditas dan turunnya suku bunga membuat mata uang tersebut menjadi kurang menarik bagi investor global.

4. Suasana Pasar

Ketika kebijakan hawkish diumumkan, pasar biasanya merespons dengan lebih hati-hati. Tingginya ketidakpastian dan potensi perlambatan ekonomi meningkatkan volatilitas.

Sebaliknya, kebijakan dovish cenderung menciptakan suasana pasar yang lebih positif. Stimulus moneter membuat investor lebih percaya diri sehingga pergerakan pasar menjadi relatif stabil dan cenderung optimistis.
 

Apa Saja Dampak dari Dovish dan Hawkish dalam Investasi?

Perubahan sikap bank sentral tidak hanya memengaruhi arah kebijakan moneter, tetapi juga membawa dampak langsung pada berbagai instrumen investasi. Berikut penjelasan mengenai bagaimana sikap dovish dan hawkish memengaruhi masing-masing aset tersebut:

1. Pasar Saham

Dalam kondisi hawkish, kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman perusahaan meningkat.

Beban keuangan yang lebih besar ini biasanya menekan potensi laba, sehingga harga saham, terutama pada sektor yang bergantung pada pembiayaan, cenderung melemah.

Sebaliknya, ketika kebijakan bersifat dovish, suku bunga yang lebih rendah mendorong konsumsi dan aktivitas investasi. Perusahaan dapat berkembang dengan biaya modal yang lebih ringan, dan hal itu membuat pasar saham bergerak lebih positif.

2. Obligasi

Kebijakan hawkish umumnya menurunkan harga obligasi. Hal ini terjadi karena kenaikan suku bunga mendorong penerbitan obligasi baru dengan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga obligasi lama menjadi kurang menarik.

Sementara itu, ketika kebijakan dovish diberlakukan, suku bunga yang turun membuat harga obligasi meningkat. Investor cenderung mencari obligasi yang menawarkan tingkat bunga lebih tinggi daripada instrumen baru, sehingga permintaan terhadap obligasi naik.

3. Mata Uang

Pada periode hawkish, nilai mata uang cenderung menguat. Suku bunga yang lebih tinggi menarik arus modal asing karena investor global mencari imbal hasil yang lebih menarik, sehingga permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat.

Sebaliknya, saat kebijakan moneter bergerak ke arah dovish, nilai mata uang sering melemah. Penurunan suku bunga membuat mata uang menjadi kurang kompetitif di mata investor asing sehingga aliran modal masuk berkurang.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: