Perjuangan BJ Habibie Bangkitkan Rupiah yang Tembus Rp17.000 namun Tak Didukung Elite Politik

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:01 WIB
Presiden RI ke-3 BJ. Habibie. (BeritaNasiona/IG BJ Habibie)
Presiden RI ke-3 BJ. Habibie. (BeritaNasiona/IG BJ Habibie)

BeritaNasional.com - Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie jadi sosok yang amat berjasa dalam kebangkitan Indonesia dari krisis moneter 1998 silam, yang menjadi salah satu masa paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat anjlok hingga menembus Rp17.000. Dampaknya pun terasa di berbagai sektor, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, banyaknya perusahaan bangkrut, hingga meningkatnya angka pengangguran. 

BJ Habibie yang muncul sebagai pemimpin yang mengambil alih pemerintahan setelah pengunduran diri Suharto pada 21 Mei 1998 menghadapi tantangan berat saat itu. Selain kondisi politik yang tidak stabil, perekonomian nasional juga berada di titik terendah. 

Insinyur penerbangan ini pun bergerak cepat melakukan berbagai upaya pemulihan ekonomi. Kala itu, pemerintah fokus memperbaiki sektor perbankan yang saat itu mengalami krisis besar. Pada masa itu sejumlah bank dilakukan restrukturisasi agar sistem keuangan kembali berjalan stabil. 

Selain itu, mantan Wakil Presiden Soeharto ini juga menjalankan reformasi ekonomi dan menjalin kerja sama dengan International Monetary Fund (IMF). Langkah ini dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap Indonesia. 

Tak hanya itu, Habibie juga mulai mendorong transparansi pemerintahan dan reformasi di berbagai sektor. Nilai tukar rupiah yang sempat terpuruk akhirnya mulai menguat secara bertahap.

Dampak dari kebijakan tersebut akhirnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh lebih dari Rp17.000 per dolar AS perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp6.500–Rp7.000 per dolar AS pada akhir masa pemerintahan Habibie.

Tak hanya nilai tukar rupiah, tingkat inflasi Indonesia juga mengalami perbaikan signifikan. Pada puncak krisis tahun 1998, inflasi Indonesia mencapai sekitar 77 persen. Namun setelah berbagai kebijakan pemulihan ekonomi diterapkan, angka inflasi turun drastis menjadi sekitar 2 persen-3 persen pada tahun 1999.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, kondisi ekonomi Indonesia mulai menunjukkan pemulihan. Inflasi perlahan terkendali dan stabilitas ekonomi mulai terbentuk kembali. Banyak pihak menilai keberhasilan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting BJ Habibie selama memimpin Indonesia di masa transisi reformasi. 

Namun sayang, BJ Habibie tak didukung elite politik kala itu. Habibie lengser dari jabatannya pada 20 Oktober 1999, setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menolak pidato pertanggungjawabannya dalam Sidang Umum MPR. Penolakan ini utamanya dipicu oleh kontroversi lepasnya Timor Timur melalui referendum, dan Habibie pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pencalonan presiden periode berikutnya. 

(Rep: Bunga)sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: